
JAKARTA, KOMPAS.com - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa (1/12)pagi turun 25 poin menjadi Rp 9.475-Rp 9.485 per dollar AS dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 9.450-Rp 9.465, karena pelaku khawatir dengan krisis keuangan di Dubai.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Selasa mengatakan, pelaku pasar agak hati-hati bermain di pasar uang, mereka bahkan cenderung melepas saham yang dimilikinya.
"Meski demikian pergerakan rupiah sampai saat ini masih berkisar Rp 9.450 sampai Rp 9.500 per dollar belum melewati batas psikologis Rp 9.500 per dollar," katanya.
Edwin, yang juga Dirut PT Finan Corpindo Nusa itu mengatakan, koreksi harga terhadap rupiah dinilai biasa, meski ada kasus krisis keuangan di Dubai. "Krisis keuangan di Dubai diperkirakan tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dunia seperti di China dan India, serta di Indonesia, bahkan ekonomi mereka makin tumbuh," ucapnya.
Namun, yang dikhawatirkan adalah apabila para pelaku pasar menarik dananya dan dialihkan untuk membeli euro dan dollar AS sebagaimana yang terjadi pada 2008. "Kalau itu terjadi maka rupiah akan terpuruk," ujarnya.
Masalah krisis keuangan di Dubai, menurut dia tak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin baik, apalagi semua negara diperkirakan akan mencatat pertumbuhan ekonomi lebih baik dibanding tahun ini. "Kami optimistis pasar akan menyambut pertumbuhan ekonomi dunia, sementara itu kasus krisis keuangan di Dubai merupakan masalah lama yang baru terungkap sekarang," ucapnya.
Ia mengatakan, pelaku pasar diharapkan tidak panik dalam menghadapi persoalan di Dubai, sehingga tidak terbawa arus yang biasa diekspos oleh orang-orang yang mencari untung. "Jadi tidak perlu dikhawatirkan krisis keuangan di Dubai, karena dalam hal ini, perbankan Indonesia juga kurang aktif melakukan transaksi bersama," ucapnya.