JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Mandiri telah menyalurkan kredit ke sektor perkebunan kelapa sawit dan industri turunannya sebesar Rp 35 triliun hingga akhir Oktober 2009. Angka ini tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2008 dan mencapai 75 persen dari total portfolio pembiayaan sektor perkebunan di Bank Mandiri.
Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Riswinandi di Jakarta mengatakan pe mbiayaan sektor kelapa sawit Bank Mandiri terus meningkat dengan tingkat kredit bermasalah (NPL) di bawah 1 persen .
Bisnis CPO memang mengalami tantangan yang sangat berat, apalagi industri tersebut masih mengandalkan pasar ekspor yang banyak hambatannya terutama di Uni Eropa yang menerapkan berbagai standar lingkungan. Namun, kami yakin prospek perkembangan industri kelapa sawit Indonesia akan tetap tumbuh dengan baik karena kami telah meng enali karakteristik bisnis ini dalam waktu yang cukup lama, kata Riswinandi.
Bank Mandiri hadir dalam acara Indonesian Palm Oil Conference and Price Outlook 2010 yang diselenggarakan oleh GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) di Bali beberapa hari lalu sebagai bentuk dukungan penuh pada sektor ini.
Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Joefly J. Bahroeny mengatakan bahwa dukungan seperti yang dilakukan oleh Bank Mandiri terhadap sektor ini sangat dibutuhkan terutama di saat muncul keraguan di pihak stakeholders , bank-bank, lembaga pembiayaan beserta regulator yang memunculkan persepsi bahwa sektor ini tidak lagi prospektif.
Keyakinan Bank Mandiri tidak terlepas dari sejarah panjang pembiayaan perkebunan kelapa sawit yang dimulai dari 4 Bank Legacy yang akhirnya merger menjadi Bank Mandiri. Saat itu bank-bank milik negara selalu diikutsertakan pemerintah dalam berbagai skema pembiayaan program seperti PIR TRANS, PIR KKPA, PBSN I,II, III, hingga program yang saat ini tengah berlangsung yaitu KPEN-RP.
Pengalaman panjang tersebut menjadikan Bank Mandiri dapat memahami karakteristik bisnis ini, dan menyiapkan produk pembiayaan dan produk lainnya yang sesuai dengan kebutuhan sektor ini.
Harga CPO pada 2008 sempat melonjak hingga mencapai 1 .395 per dollar AS per ton akibat derasnya arus likuiditas global yang berdampak pada pasar komoditas dan juga pasar finansial. Namun, harga CPO kemudian terkoreksi dan menurun tajam hingga mencapai titik terendah 435 per dollar AS per ton pada Oktober 2008 seiring dengan krisis global dan turunnya harga minyak dunia.
Model pembiayaan industri kelapa sawit yang digunakan Bank Mandiri menjadi faktor pendukung tumbuhnya p ortfolio dengan angka NPL yang rendah. Bisnis model pembiayaan ini didukung oleh kajian rutin mengenai industri kelapa sawit baik melalui riset internal maupun dengan pihak eksternal yang kompeten, mencakup semua aspek baik mikro maupun makro sehingga selalu diperoleh informasi yang up-to-date.
Selain itu, juga disiapkan struktur pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan pembiayaan kelapa sawit, sehingga saat ini Bank Mandiri layak menjadi pilihan utama untuk pembiayaan kelapa sawit.
Bank Mandiri menilai kelapa sawit memiliki keunggulan dibandingkan komoditi minyak nabati sejenis seperti soyabean, rapeseed, dan minyak canola terutama hasil produksi dalam satu tahun pada setiap hektar lahan. Selain itu, kegunaan minyak sawit yang bukan hany a sebagai bahan pangan namun juga bahan bakar menjadikannya faktor pertimbangan bahwa demand akan terus tumbuh ke depan .
Terkait dengan isu lingkungan dan sosial, Bank Mandiri selalu mempertimbangkan aspek-aspek tersebut di setiap analisa pembiayaan seperti kepatuhan terhadap regulasi pemerintah, legalitas lahan yang jelas serta kondisi sosial masyarakat sekitar kebun.
Bank Mandiri juga memandang penting pembangunan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan (sustainable) dan akan terus mendukung program pemerintah seperti reservasi hutan, program plasma, dan CSR di sektor kelapa sawit.


