Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 00:45 WIB
Kasus Century Berlarut-larut, Investor Bisa Lari
Sandro Gatra | Edj | Jumat, 4 Desember 2009 | 18:25 WIB
|
Share:

KONTAN/Cheppy A. Muchlis
Nasabah Bank Century berunjuk rasa di depan kantor pusat Bank Century di Jakarta, Rabu (17/12). Kekecewaan nasabah Bank Century yang tertipu produk Antaboga sudah mencapai puncaknya. Nasabah beramai-ramai mendatangi kantor pusat Bank Century untuk meminta pertanggungjawaban atas penempatan dana nasabah tersebut.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus aliran dana Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun yang menjadi perdebatan banyak kalangan belum mempengaruhi sektor keuangan di Indonesia. Namun, pemerintah harus segera menyelesaikan permasalahan itu agar menciptakan kepastian bagi investor. "Sampai saat ini kasus Century belum terlalu berdampak pada sektor keuangan," ucap Staf Khusus Menteri Keuangan, Chatib Basri, di Jakarta, Jumat ( 4/12 ).

Chatib menjelaskan, jika pemerintah tidak segera menyelesaikan kasus ini akan berdampak pada psikologis investor yang menaruh dana di perbankan Indonesia. Jika berlarut-larut, bukan tidak mungkin pemilik dana akan menarik uang dari bank di Indonesia. "Kalau membuat ketidakpastian maka orang bertanya-tanya apa yang terjadi? krisis finansial? Nanti terjadi apa-apa ngga pada bank saya. Kalau itu yang terjadi dan investor berpikir ini berisiko, maka ia akan menarik uangnya," ujarnya.

"Jangan lupa bahwa Indonesia itu negara yang paling gampang capital out flow. Hati-hati dengan ini, jangan main politik aja. Ekonomi juga harus diperhatikan," tambah dia.

Para pemilik dana di perbankan, kata Chatib, berharap pemerintah lebih berani mengambil keputusan untuk memberikan dana talangan jika ada bank yang dinyatakan kolaps di waktu mendatang. "Sekarang orang suka tanya kalau ada bank kolaps dan itu berdampak sistemik pemerintah berani ngga untuk lakukan bail out?," tuturnya.

"Kalau ngga berani dan terjadi dampak sistemik uang siapa yang mau protect? Kalau itu yang terjadi orang berpikir saya ngga mau invest di Indonesia," lanjut Chatib.