YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Revrisond Baswir mengatakan, dalam kasus Bank Century diduga ada upaya untuk mengalihkannya ke arah konflik personal, sehingga rakyat harus terus memantau perkembangan kasus ini. "Indikasi dari pengalihan itu antara lain pertengkaran antara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, serta silang pendapat antaranggota Pansus Hak Angket Century," katanya di Yogyakarta, Kamis (17/12/2009).
Selain itu, menurut dia pada diskusi Neoliberalisme dan Centurygate di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, juga kasus salah keterangan dari anggota pansus Bambang Soesatyo terkait dugaan pembicaraan antara Sri Mulyani dan Robert Tantular. "Dalam kasus ini perlu ditelisik lebih jauh, siapa saja yang terlibat, apa kepentingannya, ke mana dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun mengalir, siapa yang menikmati dana tersebut, apakah benar dana itu mengalir kepada partai atau tim capres tertentu. Kita masih harus menunggu jawabannya," katanya.
Ia mengatakan dari proses demi proses yang dilewati beberapa pihak yang terlibat, Bank Indonesia (BI), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hasil akhirnya adalah keluarnya keputusan bahwa Bank Century adalah bank gagal berdampak sistemik. "Rapat KSSK menyimpulkan bahwa Bank Century adalah bank gagal berdampak sistemik. Sebuah keputusan yang patut dipertanyakan, karena melanggar banyak syarat," kata Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM itu.
Menurut Revrisond, hal ini sangat aneh, karena aturan yang dibuat oleh BI kemudian dilanggar sendiri. Aturan tersebut kemudian diubah agar sesuai dengan yang diinginkan, tetapi dilanggar lagi. "Saya kira tidak semua sepakat bahwa Bank Century adalah bank gagal berdampak sistemik. Sungguh memprihatinkan ada pejabat yang disinformasi ketika mengambil keputusan," katanya.
Ia mengatakan dalam kasus itu terjadi malapraktik perbankan. Pihak-pihak yang terlibat pun mengakuinya, dan dalam rapat KSSK pun Boediono sudah mengakui kesalahan tersebut. Keputusan akhir KSSK itu, menurut dia merupakan buah dari tawaran malapraktik BI sejak lama. Artinya, malapraktik dalam hal supervisi bank yang dibawa ke KSSK sehingga tidak punya pilihan.
"Gubernur BI mengirimkan surat yang isinya meminta Bank Century diselamatkan. Tentu ini harus dipertanggungjawabkan," katanya.
Menurut dia, rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century sebesar -3,5 seharusnya membuat bank tersebut sudah ditutup. Namun ada surat dari Boediono selaku Gubernur BI yang menyatakan bahwa Bank Century harus diselamatkan, tidak ada pilihan lain. "Padahal Bank Indover milik pemerintah saja ditutup," kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM itu.


