Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 08:37 WIB
Berburu Tiket Lewat "Jalan Belakang"
| jimbon | Senin, 21 Desember 2009 | 06:25 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Minggu, 20 Desember. Jarum jam menunjukkan pukul 15.30. Ratusan orang memenuhi Terminal Keberangkatan 1A Bandara Soekarno-Hatta. Di sudut sebuah bangku, di selasar terminal tersebut, duduk seorang laki-laki memegang erat tiket pesawat terbang tujuan Jakarta-Kupang.

Saat didekati dan ditanya hendak ke mana, laki-laki yang belakangan mengenalkan dirinya dengan nama Stevanus (48) itu dengan cepat menjawab, ”Pulang ke Kupang.”

Dengan gembira, Stevanus, yang biasa disapa Stev, menunjukkan selembar tiket yang, menurut dia, diperoleh dengan susah payah.

Stev bercerita, sepekan lalu ia mulai berburu tiket di sejumlah biro perjalanan di Jakarta. Berulang kali ia mendatangi agen-agen yang menjual tiket pesawat, tetapi jawabannya sudah habis. Ketika itu, ia nyaris menyerah dan hampir membatalkan rencana mudik Natal di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Harapan Stev untuk merayakan Natal bahagia bersama keluarga nyaris pupus.

Hingga akhirnya, Jumat lalu, ia mendapat kabar dari agen tiket bahwa masih ada peluang untuk mendapatkan tiket pulang. Namun, ia harus menunggu beberapa hari. Padahal, istri dan anak-anaknya terus menelepon dan bertanya kapan ia pulang.

Minggu, akhirnya Stev mendapat kabar bahwa tiketnya sudah oke dan diminta langsung mengambil di bandara. Untuk tiket sekali jalan Jakarta-Kupang, Stev membayar Rp 2.350.000. Harga ini sekitar tiga kali lipat dari harga tiket hari biasa sekitar Rp 750.000.

”Wah, susah sekali cari tiket. Memang mahal, tetapi enggak apa-apa yang penting saya bisa merayakan Natal bersama keluarga di kampung,” ujar Stev, yang mengaku bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Tidak jauh dari tempat Stev duduk, seorang perempuan muda bersama ibunya berdiri gelisah di depan pintu masuk menuju tempat check in. Perempuan muda yang mengaku bernama Norsi (22) itu menuturkan, mereka sudah memperoleh tiket dan bisa pulang.

”Cari tiket susah sekali, tetapi sudah dapat, dibantu bapak itu,” ujar Norsi sambil menunjuk pria di sampingnya.

Beberapa calon penumpang asal Manado juga mengaku sulit mencari tiket untuk pulang. Mereka mengeluhkan harga tiket yang melambung sampai empat kali lipat. ”Torang so beli tiket dari Rabu lalu, maar tetap dapat Rp 2.550.000. Ya mahal sekali, tapi daripada nyanda pulang (Kami sudah membeli tiket sejak Rabu, tapi tetap saja dapat harga Rp 2.550.000 per tiket. Ya memang mahal, tetapi daripada tidak pulang),” ujar Jefry Sompie dari Manado.

Ia menuturkan, karena ingin cepat pulang ke Manado, beberapa temannya terpaksa membeli tiket dengan harga mahal dari calo. ”Coba tanya saja langsung ke calo-calonya,” ujar Jefry seraya menunjuk beberapa calo yang menawarkan tiket pesawat.

Kompas pun mendekati beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari loket penjualan tiket sebuah maskapai. ”Bang, ada tiket enggak buat ke Manado?” Spontan langsung dijawab ada. ”Mau tanggal berapa?” katanya.

Saat ditanya lagi kalau besok harganya berapa? Lelaki yang berusia sekitar 30 tahun menjawab, untuk tanggal 21-24 Desember pagi harganya di atas Rp 2.500.000 hingga mendekati angka Rp 3.000.000.

Tidak adanya tarif batas atas yang jelas dari maskapai penerbangan menyebabkan harga tiket saat hari Natal dan hari-hari raya lain melambung tak terkendali.

Sejumlah calo mengaku harga tiket yang mereka tawarkan itu ditentukan maskapai penerbangan. Mereka hanya membantu menjualnya. Namun, dijamin, tiket itu dapat digunakan. ”Jangan khawatir kalau sudah bayar. Saya antarkan sampai ke check in sekalian,” ujarnya.

Karena itu, di luar harga tiket tersebut, calon penumpang masih harus menambah tip buat dia. ”Ya, kerelaan aja. Namanya juga jasa,” ucapnya.

Beberapa calo mengaku, tiket yang paling laku adalah tujuan Kupang, Manado, Ambon, dan Medan.

Kereta api

Kesulitan mendapatkan tiket untuk mudik Natal juga dialami calon penumpang kereta api (KA). Di Stasiun KA Gambir, Jakarta, sejumlah penumpang masih berupaya mencari tiket untuk merayakan Natal. Tiket KA tujuan Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya habis.

Mei (35), seorang ibu, gagal mengajak anaknya yang masih berusia tiga tahun. Ia terpaksa membuang rencana untuk berada di Yogyakarta tanggal 24-26 Desember 2009 karena tidak memperoleh tiket.

Walau tidak separah kenaikan harga tiket pesawat, tiket KA menjelang Natal juga mengalami kenaikan harga rata-rata mencapai Rp 60.000 dibandingkan dengan hari biasa. Misalnya, tiket KA Taksaka dijual Rp 280.000, sementara pada hari biasa hanya Rp 220.000.

Seperti di bandara, sejumlah calo juga beraksi di stasiun KA. Codet (30), misalnya, mengaku bisa mengusahakan tiket pada tanggal libur Natal meski dinyatakan sudah habis.

Namun, harga yang ia tawarkan lebih mahal, yakni Rp 400.000 per tiket. ”Sebulan sebelumnya saya sudah memesan 22 tiket untuk libur Natal, kini tersisa lima tiket,” ujarnya.

Pakar transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan, munculnya calo tiket pada puncak arus penumpang pada hari raya merupakan fenomena sosial yang kerap ditemui di negara berkembang.

Kekurangan tiket pada arus mudik Natal dan Tahun Baru seharusnya tidak terjadi. Pasalnya, jumlah armada angkutan yang tersedia, seperti pesawat dan kereta api, memadai.

”Armada untuk angkutan Natal dan Tahun Baru masih mencukupi. Kecuali Lebaran, jumlah penumpang memang sangat banyak,” ujar Djoko.

Untuk mengatasi fenomena merebaknya calo tiket, Djoko menilai perlu ketegasan dari petugas bandara dan stasiun. (YOP/ACI/ELD/WIE/WSI)

Sumber :
Kompas Cetak