Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 08:49 WIB
Boediono: Situasi Krisis, Jumlah Dana Talangan Dinamis
Inggried Dwi Wedhaswary | Edj | Selasa, 22 Desember 2009 | 11:13 WIB
|
Share:

Inggried Dwi W
Boediono memberikan sumpah sebelum memberikan keterangan di hadapan pansus angket Bank Century di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (22/12/2009).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Gubernur Bank Indonesia, Boediono, dicecar mengenai membengkaknya dana talangan Bank Century dari yang diputuskan Rp 632 miliar, menjadi Rp 6,7 triliun saat dikucurkan. Pertanyaan itu diajukan anggota pansus angket Century asal Fraksi Partai Hanura, Akbar Faisal, Selasa ( 22/12 ), dalam rapat pansus yang mendengarkan kesaksian Boediono. 

"Apa penjelasan Bapak, mengenai dana talangan, bagaimana bisa dari Rp 632 miliar menjadi Rp 6,7 triliun?," tanya Akbar di Ruang Pansus, Gedung DPR, Jakarta. 

Menjawab pertanyaan ini, Boediono mengungkapkan, dalam situasi krisis, perhitungan mengenai pengucuran dana bersifat sangat dinamis. "Dalam proses krisis, perhitungan menjadi sangat dinamis. Tidak bisa ditentukan dengan sangat-sangat akurat. Semuanya tergantung perkembangan pada tanggal tersebut," jawab Boediono.

Seperti diketahui, menurut temuan BPK, ada jumlah pengucuran dana yang berbeda dari yang disepakati dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Bank Indonesia, ketika membahas talangan Bank Century. Boediono, yang menjabat Wakil Presiden, juga mengutarakan, keputusan yang diambil BI di bawah kepemimpinannya merupakan keputusan tepat. Dampak sistemik pada masa krisis, menurutnya, tidak melihat apakah bank itu berskala besar atau kecil. "Dalam situasi krisis, psikologis masyarakat menjadi sangat eksklusif dan gampang menimbulkan kepanikan," ujarnya.

Pernyataan Boediono ini sekaligus menjawab pertanyaan berkaitan kesaksian Burhanuddin Abdullah dan Anwar Nasution yang mengatakan bahwa Century merupakan bank kecil yang mustahil menimbulkan dampak sistemik. "Seandainya mereka (Burhanuddin dan Anwar) berada dalam posisi kami, pasti akan mengambil tindakan sama. Data kami OK, dan bisa diputuskan dalam waktu singkat sehingga dampaknya tidak meluas," kata Boediono mengkonter keterangan keduanya yang disampaikan kemarin.

Ia juga mengungkapkan, krisis pada tahun 1997-1998 terjadi akibat pembiaran terhadap kolapsnya 16 kecil yang kemudian melumpuhkan perbankan nasional. Menurut Boediono, pada krisis pertama itu, tindakan penyelamatan tidak segera dilakukan terhadap bank-bank kecil yang total aset perbankannya hanya 2 persen dari total aset perbankan nasional.