BANDUNG , KOMPAS.com - Pelaku grosir tesktil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Barat mengurangi pesanan sebesar 40 persen ke pabrik sejak awal Desember 2009. Mereka tengah menunggu dan melihat untuk mendapatkan TPT asing dengan harga lebih murah pada tahun 2010.
Anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Daerah Jabar Dadi Susilo di Bandung, Selasa (22/12), mengatakan, harga TPT diperkirakan turun karena pemberlakuan Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) yang membuat bea masuk produk impor menjadi nol persen.
Bea masuk untuk setiap kontainer tesktil rata-rata berisi 29 ton TPT , sebesar Rp 250-300 juta. Bila AFTA diterapkan, bea masuk itu dihapuskan dan harga TPT asing pun bisa turun. Dampak yang dikhawatirkan yakni sejumlah perusahaan TPT terancam gulung tikar. Dadi tak dapat memperkirakan jumlah perusahaan yang tutup pada tahun 2010 namun risiko pabrik besar lebih tinggi.
Usaha kecil menengah (UKM) lebih luwes. Usaha tesktil berskala kecil misalnya, bisa mengubah pakaian bordiran menjadi batik yang sedang digemari, katanya. Pengalihan itu mudah dilakukan karena kapasitas produksi UKM termasuk kecil.

