JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur PLN baru Dahlan Iskan diragukan kemampuannya untuk menyelesaikan beragam praktik inefisiensi di tubuh perusahaan milik negara itu. Diangkatnya Dahlan juga dikhawatirkan menimbulkan konflik kepentingan pada diri Dahlan. Sebab, Dahlan yang juga bos Grup Jawa Pos mempunyai banyak bisnis, termasuk dua bisnis pembangkit listrik di Kalimantan.
"Sosok Dirut yang baru kabarnya terjun di banyak bisnis terkait listrik, bisa-bisa praktik-praktik inefisiensi justru makin marak karena potensi konflik kepentingan," ujar Direktur Reforminer Institute Priagung Rahmanto, kepada Kompas.com, Jakarta, Rabu (23/12/2009).
Diketahui, Serikat Pekerja PLN juga menolak Dahlan Iskan sebagai Dirut perusahaan pelat merah tersebut. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) SP PLN, Ahmad Daryoko mengatakan penolakan ini karena Dahlan dinilai kurang kompeten dan dikhawatirkan memiliki konflik kepentingan karena dia juga merupakan pengusaha kelistrikan.
Hal senada juga disampaikan Priagung. Dia menyangsikan akan ada efisiensi dan perbaikan kinerja PLN, pascapenggantian Dirut nanti. Sebab, menurutnya, masalah kelistrikan bukan terletak di Direksinya, namun harus ada dukungan pemerintah dalam hal jaminan pasokan energi primer, kebijakan pendanaan PLN dan pembenahan struktur Tarif Dasar Listrik (TDL).
"Pekerjaan rumahnya untuk jangka pendek,kalau bisa memenuhi pasokan gas pembangkitnya hingga 80 pct dari yang sekarang hanya sekitar 40 pct saja," tandasnya.

