Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 08:10 WIB
Ancaman Baru Mengintai
| jimbon | Kamis, 24 Desember 2009 | 06:57 WIB
|
Share:

KOMPAS/ADI SUCIPTO
Pekerja mengecek peralatan di Blok Cepu di Lapangan Minyak Banyuurip di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (12/12). Produksi awal Blok Cepu mencapai 20.000 barrel minyak per hari. Pada puncak produksi, Blok Cepu diharap - kan bisa menghasilkan 185.000 barrel per hari.

TERKAIT:

KOMPAS.com - Belum lagi perekonomian global yang tahun lalu terpuruk dihajar krisis kembali berdiri kokoh, ancaman baru sudah mengintai. Salah satunya dari harga minyak mentah dunia yang setahun terakhir naik hampir dua kali lipat dan diprediksikan bakal terus menguat dengan pulihnya permintaan dan ekonomi dunia.

Banyak kalangan, mulai dari ekonom, analis minyak, hingga lembaga seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), mengingatkan kemungkinan terlalu cepat naiknya harga minyak menjadi ancaman bagi proses pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.

Di dalam negeri, sejumlah ekonom sudah mengingatkan perlunya langkah antisipasi lebih dini dari pemerintah, mengingat posisi APBN 2010 yang menggunakan asumsi harga minyak mentah 65 dollar AS per barrel dan perekonomian secara keseluruhan akan mengalami kesulitan jika harga minyak mentah sampai kembali bertengger di atas 100 dollar AS per barrel.

Ekonom dan analis minyak terkemuka, Nouriel Roubini dan Daniel Yergin, melihat harga minyak dunia sekarang ini tak mencerminkan kondisi fundamental permintaan dan pasokan global, tetapi lebih dipicu oleh melemahnya dollar AS (yang membuat investor banyak menubruk komoditas seperti minyak) dan optimisme berlebih (unjustified optimism) investor terhadap prospek pemulihan ekonomi global.

Keyakinan investor soal bakal pulihnya dengan cepat ekonomi dunia (yang berarti juga permintaan terhadap minyak) didasarkan pada proyeksi ekonomi global yang dikeluarkan oleh sejumlah lembaga, termasuk IMF, mengenai sudah mulai pulihnya ekonomi global.

Indikator

Namun, beberapa indikator, seperti masih terus memburuknya ekonomi Amerika Serikat dan berbagai kasus, seperti krisis yang menimpa Dubai World, menyadarkan masih sangat tingginya risiko terhadap prospek pemulihan yang sedang berjalan.

Peningkatan permintaan minyak oleh sejumlah negara, khususnya China, memang terjadi, tetapi diyakini tak sampai menyebabkan kenaikan harga berlanjut (rally) seperti sekarang ini karena pada saat yang sama permintaan dari negara-negara industri maju masih tertekan. Konsumsi minyak AS turun sekitar 2 juta bph dalam dua tahun terakhir akibat resesi.

”Kenaikan harga yang terjadi sekarang ini agak berlebihan, terlalu cepat. Sebagian kenaikan harga memang karena pemulihan global, tetapi naik dari 30 dollar AS ke 80 dollar AS ketika permintaan global turun ke level 2005 sulit dibenarkan. Ingat apa yang terjadi tahun lalu, harga naik bukan karena alasan fundamental, seperti permintaan, tetapi karena gelembung (bubbles). Kalau sekarang ini harga sampai 100 dollar AS, dampaknya pada ekonomi global akan sama seperti ketika harga mencapai 147 dollar tahun lalu,” ujar Roubini.

Ia mengingatkan gejala munculnya kembali bubbles yang bersumber dari transaksi dollar carry trade saat investor memanfaatkan dollar AS yang melemah untuk memborong aset-aset menguntungkan, termasuk minyak.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang menguasai sepertiga produksi minyak dunia, sependapat harga sekarang ini sudah eksesif untuk kondisi saat ini. ”Harga 80 dollar AS per barrel sedikit terlalu tinggi karena sebenarnya tidak ada kelangkaan pasokan,” ujar Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla Salem El-Badri. OPEC juga menyiratkan kemungkinan menaikkan produksi jika harga minyak mencapai 100 dollar AS per barrel.

Harga minyak mentah dunia mengalami ayunan seperti roller coaster dalam setahun lebih terakhir. Setelah menyentuh level tertinggi 147 dollar AS per barrel pada Juli 2008, harga minyak patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), anjlok lebih dari 70 persen dalam enam bulan, mencapai 32,7 dollar AS per barrel pada Januari 2009.

Namun, setelah itu harga dengan cepat menukik kembali, sempat menembus angka 80 dollar AS pada Oktober 2009, sebelum kembali terkoreksi ke level sekitar 74 dollar AS per barrel awal pekan ini, menyusul keraguan investor terhadap intensitas pemulihan ekonomi global.

Sekitar 60 persen kenaikan harga minyak mentah 2008 diperkirakan bersumber dari spekulasi futures (transaksi untuk penyerahan ke depan) oleh para hedge funds, bank dan lembaga keuangan, dengan menggunakan bursa minyak London (London ICE Futures) dan New York (NYMEX Futures) serta transaksi di luar bursa (Over-The-Counter) yang tak terpantau.

Di antara pemain besar di komoditas adalah lembaga-lembaga finansial raksasa, seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, JP Morgan Chase, Citigroup, Deutsche Bank, atau UBS. Merril Lynch sendiri memprediksikan WTI dan minyak patokan Inggris, ICE Brent, akan diperdagangkan pada 100 dollar AS pada 2010 meski untuk keseluruhan 2010 harga rata-rata diperkirakan masih berkisar sekitar 85 dollar AS (naik dari prediksi semula 75 dollar AS per barrel).

Perekonomian dunia diperkirakan tumbuh 2,9 persen tahun 2010, menyusul kontraksi 1,1 persen tahun ini. Pemulihan terutama dimotori emerging economies Asia, khususnya China dan India, selain negara-negara BRIC lainnya. Sementara, negara-negara maju OECD diperkirakan baru akan mencatat pertumbuhan positif pada 2010, dengan perekonomian AS tumbuh 1,4 persen, zona Euro 0,5 persen, dan Jepang 1,1 persen pada tahun tersebut.

Sulit mengejar

Kemungkinan harga kembali melonjak ke level sebelum krisis global dalam waktu dekat memang kecil. Namun, beberapa analis tak menutup kemungkinan level 100 dollar AS per barrel terjadi tahun 2010.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Energy Information Administration (EIA), dan OPEC belum lama ini beramai-ramai merevisi proyeksi permintaan minyak dunia untuk 2010, terutama sehubungan dengan pemulihan ekonomi dunia.

OPEC memprediksikan permintaan 2010 mencapai 85,07 juta bph, naik 0,9 persen atau 0,8 juta bph dari 2009. Kenaikan permintaan terutama berasal dari China (3,7 persen) dan Timteng (3,34 persen), sedangkan Eropa Barat turun 1,25 persen. Sementara IEA memperkirakan permintaan dunia sebesar 86,1 juta bph, naik 1,7 persen atau 1,4 juta bph, dengan kenaikan 3,6 persen terjadi di negara berkembang.

IEA memprediksikan situasi pasar akan tetap ketat tahun depan dan suplai akan semakin sulit mengimbangi pertumbuhan permintaan setelah 2010, terutama dengan kian kuatnya pemulihan ekonomi global. ”Permintaan minyak sekarang ini rendah karena kondisi ekonomi buruk. Namun, jika pemulihan cepat ekonomi berlangsung, kita akan menghadapi masalah serius jika investasi di sumur minyak tidak meningkat,” ujar Chief Executive IEA Nobuo Tanaka.

Ia memperkirakan permintaan akan naik 1 persen tahun depan, terutama dengan pulihnya ekonomi China dan India. Sementara dari sisi suplai, produksi sulit digenjot. Menurut Chief Executive Total (perusahaan minyak Perancis) Christophe De Margerie, dikutip Financial Times, kalangan produsen minyak sekarang ini sudah mendekati kapasitas maksimal produksi.

Produksi

Upaya menggenjot produksi dihadapkan pada kendala tingginya biaya produksi, terutama untuk proyek eksplorasi dan eksploitasi baru. Beberapa negara produsen, seperti Iran dan Irak, juga dihadapkan pada gejolak politik di dalam negeri. Secara total, produksi minyak mentah dunia tak pernah menembus angka 89 juta bph. Sementara permintaan saat ini sudah sekitar 84 juta bph. Tahun 2030, permintaan dunia diperkirakan EIA sudah akan melampaui 100 juta bph.

Konsumsi China akan sangat menentukan arah pergerakan harga minyak dan komoditas lain, baik jangka pendek maupun jangka panjang, ke depan. Permintaan minyak mentah oleh China, diprediksikan oleh EIA, bakal meningkat dua kali lipat menjadi 16,3 juta bph pada 2030, dari 7,7 juta bph pada 2008.

China, menurut Researchandmarkets (China Oil and Gas Report), dewasa ini menyumbang 35,58 persen permintaan minyak Asia Pasifik dan 45,54 persen total pasokan. Dengan pertumbuhan ekonomi China diprediksikan rata-rata sebesar 8 persen pada kurun 2010-2014, konsumsi minyak negara ini diperkirakan akan tumbuh 24,02 persen pada 2009-2014. Ini berarti 10,32 juta bph pada 2014 di mana sekitar 6,41 juta bph harus impor.

Sebelumnya, konsumen energi terbesar adalah negara-negara OECD yang menyumbang 51 persen konsumsi minyak dunia pada 2006. Namun, pada 2030, pangsa ini menyusut menjadi sekitar 41 persen. China dan India secara bersama-sama menyumbang sekitar 10 persen total konsumsi energi dunia pada 1990, meningkat menjadi 19 persen pada 2006 dan diperkirakan 28 persen pada 2030. Sementara pangsa AS diprediksikan menyusut dari 21 persen 2006 menjadi 17 persen 2030.

Pertumbuhan konsumsi paling pesat terjadi di kawasan non-OECD Asia yang konsumsinya meningkat 104 persen selama kurun 2006-2030. Semua negara non-OECD akan mencatat kenaikan konsumsi dengan konsumsi negara-negara Timteng, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan diprediksikan naik sekitar 60 persen dan Afrika 50 persen selama kurun tersebut.

Hal serupa terjadi pada bahan bakar fosil lain, termasuk bahan bakar cair (liquid fuels), gas alam, dan batu bara. Konsumsi batu bara dunia diperkirakan tumbuh 1,7 persen per tahun selama kurun 2006-2030, dengan AS, China, dan India menyumbang 88 persen konsumsi batu bara dunia selama kurun tersebut.

Menurut United Nations Conference on Trade and Development (Trade and Development Report 2009), meski terjadi koreksi tajam harga komoditas pada paruh kedua 2008, rata-rata harga semua kelompok komoditas, kecuali minyak, tetap di atas rata-rata sepuluh tahun terakhir. (TAT)

Sumber :
Kompas Cetak