Angola, Jumat -
Kantor berita Dow Jones melaporkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Darwin Zahedy Saleh menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pertemuan tahunan ke-155 para menteri energi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Angola, Afrika, Selasa (22/12). Indonesia hadir di dalam forum tersebut sebagai pengamat.
”Kami mengharapkan bisa bergabung lagi dengan OPEC pada tahun 2013-2014, tetapi sebelumnya tentu Indonesia harus kembali menjadi negara pengekspor minyak. Untuk itu, produksi minyak Indonesia harus bisa ditambah 200.000 barrel-300.000 barrel per hari,” ujar Darwin Saleh.
Indonesia resmi keluar dari OPEC pada 1 Januari 2009. Keputusan keluar dari OPEC disampaikan pemerintah pada pertengahan 2008 di tengah kondisi harga minyak yang melonjak tinggi.
Indonesia, yang bergabung dengan OPEC pada 1962, saat ini sudah berposisi sebagai pengimpor minyak (
Saat ini rata-rata produksi minyak dan kondensat hanya sekitar 949.000 barrel per hari, sementara konsumsi BBM domestik sudah mencapai 1,6 juta barrel per hari. Akibatnya, Indonesia semakin bergantung pada impor.
Kepentingan Indonesia sebagai pengimpor semakin berseberangan dengan anggota OPEC yang menikmati keuntungan dari tingginya harga minyak.
Untuk dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, Darwin Saleh mengatakan, Indonesia saat ini sedang memprioritaskan upaya peningkatan kapasitas kilang minyak di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya kerja sama bisnis dengan para anggota OPEC. Kerja sama bilateral diyakini akan mengurangi ketergantungan terhadap para
Pertemuan di Angola kemarin menghasilkan kesepakatan bahwa OPEC akan mempertahankan produksinya di level saat ini, yaitu sekitar 29 juta barrel per hari yang setara dengan 50 persen produksi total dunia.
Hal itu dilakukan untuk menjaga harga minyak tetap stabil di 70 dollar AS-80 dollar AS per barrel. Di kisaran ini harga minyak dinilai cukup aman untuk menopang pemulihan ekonomi dunia dari dampak krisis finansial global.
”Harga saat ini baik untuk produsen, konsumen, ataupun kalangan investor,” kata Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi.
Demi menjaga harga minyak tetap di 70 dollar AS-80 dollar AS, Menteri Ali al-Naimi menekankan pentingnya kepatuhan para anggota OPEC dalam memenuhi kuota produksi setiap negara.

