Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:43 WIB
Saat Maskapai Mulai "Rakus"
| acandra | Selasa, 29 Desember 2009 | 22:57 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Truk tangki Pertamina mengisi bahan bakar avtur pada pesawat Boeing 737 milik Mandala Airlines di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten.

TERKAIT:

KOMPAS.com - Tahun 2009 boleh dikatakan menjadi era kebangkitan dunia penerbangan nasional. Di mana pada saat penerbangan dunia mengalami kelesuan, maskapai-maskapai nasional malah berjaya di negeri sendiri. Enam operator penerbangan besar terus menunjukkan peningkatan layanan dan pendapatan.

Berjayanya penerbangan nasional ini dipercaya karena Indonesia menjadi satu dari beberapa negara yang sedikit terimbas krisis keuangan yang menimpa dunia pada medio 2008 hingga awal 2009 lalu. Akibat krisis tersebut penerbangan antar negara di dunia mengalami kelesuan yang luar biasa.

Pada saat maskapai raksasa dunia mengalami kerugian dan menggrounded pesawatnya secara besar-besaran, Garuda Indonesia dan Lion Air justru menikmati keuntungan besar. Pada 2008 lalu, Garuda mampu melayani sekitar 10 juta penumpang, sedangkan Lion menerbangkan 11 juta orang.

Hal ini disebabkan karena kebutuhan dan kemampuan membayar masyarakat akan transportasi penerbangan masih sangat besar. Dari data Departemen Perhubungan, seluruh rute di Indonesia rata-rata load factornya mencapai lebih dari 75 persen.
Sadar akan potensi penerbangan dalam negeri ini, operator pun mulai mengincar rute-rute di luar rute tradisional yaitu rute dari Jakarta ke seluruh daerah. Rute-rute jarak dekat antar pulau semakin digemari oleh maskapai. Operator penerbangan seakan "rakus" membuka rute-rute baru yang sebelumnya tidak dilirik.

Sebagai contohnya, Mandala Air dengan 11 armada Airbusnya membuka rute Semarang-Banjarmasin-Balikpapan. Rute ini meneruskan rute sebelumnya Balikpapan-Tarakan yang telah dibuka sebelumnya. Bukan itu saja, perusahaan penerbangan patungan dengan luar negeri itu juga menguasai rute-rute jarak pendek di Sumatera.

Head Corporate Communication Mandala, Trisia Megawati mengatakan, pihaknya mengincar rute pendek tersebut karena selama ini belum tergarap dengan baik. Pada saat rute tradisional mulai banyak saingan, maka penerbangan antar daerah juatru lebih menguntungkan.

Selain itu, jelasnya, juga untuk persiapan liberalisasi penerbangan ASEAN agar Mandala siap saat program tersebut berjalan. "Pada intinya kita juga akan bekerjasama dengan asing sebagai pengumpan untuk daerah-daerah di Indonesia, dan maskapai asing itu sebagai pengumpul," tandasnya. Namun Trisia belum mau mengungkapkan maskapai asing mana yang akan diajak kerjasama itu.

Hal sama dilakukan Sriwijaya Air, yang membuka rute pendek antar negara. Setelah mendapat izin ke Malaysia, Sriwijaya pun membuka layanan Medan-Ipoh (Malaysia) bersaing dengan maskapai jiran Firefly.

Bukan itu saja, Sriwijaya yang mengklaim telah menguasai penerbangan antar kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi itu bertekad "menjahit" pulau-pulau tersebut. Salah satunya adalah dengan membuka rute Jakarta-Jogja-Balikpapan- Tarakan. "Kami akan terus berusaha "menjahit" penerbangan antar pulau sehingga jarak bisa semakin dekat," kata Presiden Direktur Sriwijaya Air, Chandra
Lie.

Bila pada awal 2009 lalu jumlah rute Sriwijaya hanya 120-an, hingga akhir 2009 sudah menjadi 188 rute yang meliputi 33 kota dalam negeri dan 4 kota luar negeri.
Dijelaskannya, rute tradisional saat ini persaingannya sangat ketat sehingga maskapai memberikan tarif cukup rendah sehingga keuntungannya sedikit. Padahal bila membuka rute kedua (second route) operatornya sedikit sehingga tarifnya masih cukup tinggi keuntungannya bisa besar.

Semakin galaknya Sriwijaya mancari rute-rute baru ini juga karena target penambahan penumpang di 2010 mendatang. "Pada 2008 kita dapat 4,6 juta penumpang, pada 2009 target kami 5 juta. Tahun depan mudah-mudahan bisa lebih dari 6 juta," tandas Chandra.

Untuk penerbangan internasional, Batavia Air pun mulai mengincar kota di luar Jakarta. Maskapai mulai membuka rute internasionalnya yaitu Semarang©Singapura pp. Alasan pembukaan rute ini cukup simple, banyak pebisnis di Semarang yang punya kepentingan di Singapura. "Mereka tidak perlu ke Jakarta dulu, tapi langsung ke Singapura," kata manajer Humas Batavia Eddy Heryanto.

Garuda Indonesia yang masih memegang teguh rute-rute tradisional pun mulai melirik rute jarak pendek. Siapa sangka bila maskapai terbesar di Indonesia membuka rute Jakarta-Lampung pp yang jaraknya sangat dekat? tetapi ternyata BUMN ini membuka juga. "Permintaan cukup besar," kata Direktur Niaga Garuda, Agus Priyanto.

Bukan hanya itu, Jakarta-Pangkalpinang yang tadinya hanya menjadi ajang persaingan maskapai swasta pun dimasukinya. Rute dengan penerbangan 50 menit tersebut, jelas Agus, dimasuki karena selama ini belum ada yang memberikan layanan full services. "Kami datang dengan layanan premium, jadi beda dengan lainnya," ujar Agus.

Bila tahun ini Garuda membuka 15 rute pendek, tahun depan Garuda akan menambahnya dengan 10 jurusan yang beberapa diantaranya juga rute pendek. Salah satunya adalah Jakarta-Belitung pp. (PersdaNetwork/ Hendra Gunawan)

Sumber :
Persda Network