Senin, 22 September 2014

/ Bisnis & Keuangan

Inilah Penghambat Daya Saing Tekstil Indonesia

Rabu, 30 Desember 2009 | 18:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Memasuki 2010, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia akan menghadapi pasar bebas FTA ASEAN-China. Oleh karena itu, masalah-masalah yang melemahkan daya saing industri TPT Indonesia harus segera ditangani.

Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Benny Soetrisno, saat jumpa pers Kinerja Industri TPT Indonesia 2009 dan Target 2010 di Kantor Sekretariat API, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (30/12/2009).

Menurut Benny, ada beberapa masalah yang mengganjal peningkatan daya saing industri TPT. Pertama, tingginya suku bunga komersial di Indonesia yang mencapai 14 persen, sedangkan di China hanya 6 persen.

Kedua, krisis energi yang masih berlangsung di Indonesia yang berdampak pada mahalnya harga listrik. "Apakah listrik kita sudah memadai? Supply listrik seharusnya sesuai dengan yang dibutuhkan industri," ujar Benny.

Ketiga, pengelolaan ketenagakerjaan yang masih terpaku pada penetapan upah minimum bukan memerhatikan aspek produktivitas. Menurut data API, ILO mencatat, produktivitas kerja Indonesia berada di posisi 59 dunia, sedangkan China berada di posisi 31. "Kalau mau mempertahankan eksistensinya, dia (pengusaha) harus melatih pekerjanya," kata Benny.

Keempat, tingginya biaya pelabuhan di Indonesia yang masih menggunakan mata uang dollar Amerika, sedangkan di negara pesaing transaksi pelabuhan dapat dilakukan menggunakan mata uang setempat. Selain melakukan upaya peningkatan daya saing, diperlukan pula penciptaan situasi kondusif di pasar dalam negeri.

Diperlukan pengawasan lebih serius dari Bea Cukai, Kepolisian, dan Pajak untuk memberantas peredaran barang selundupan yang merugikan.


Editor : msh