Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 09:57 WIB
Produk China Memang Murah...
Nisa | Edj | Minggu, 3 Januari 2010 | 13:53 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pengunjung memadati koridor di pusat perbelanjaan Tanah Abang Blok A, Jakarta, Minggu (31/8). Volume perdagangan di pusat penjualan tekstil tersebut meningkat, terutama perdagangan skala grosir ke luar daerah Jakarta.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Perdagangan bebas (Free Trade Area/FTA) China-ASEAN yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010 mengancam eksistensi industri tekstil dalam negeri.

Pedagang pun mengaku, produk China telah membanjiri toko mereka. Harganya yang murah menjadi alasan produk China kian digemari.

Asril, salah satu pedagang pakaian di Blok A Pasar Tanah Abang, mengatakan, produk China memang lebih murah ketimbang produk lokal. Di tokonya pun, 80 persen pakaian yang dijual diimpor langsung dari China. "Iya produk China murah. Kayak misalnya produk China bisa dijual Rp 65.000 atau Rp 70.000, kalau barang kita baru bisa materiilnya aja," ungkap Asril, kepada Kompas.com, Minggu (3/1/2010).

Murahnya produk China tersebut menjadi pertimbangan para pedagang untuk tetap menjualnya. "Kalau di produk lokal baru dapet bahannya aja, produk China sudah bisa dijual dengan harga segitu. Belum lagi dijahitnya, pasang ini-itu udah abis berapa," kata dia lagi.

Ditanya mengenai pajak produk-produk tersebut yang hanya nol persen, Asril mengaku telah lama mengetahuinya. "Iya, itu udah tau lama," ucap penjual pakaian-pakaian wanita tersebut. Ramainya produk China di pasar Indonesia dikhawatirkan akan melemahkan produk lokal.

Untuk diketahui, FTA akan melibatkan enam negara di kawasan ASEAN, yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Pada tahun 2015, negara Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam juga akan terlibat dalam perdagangan bebas tersebut.