KOMPAS.com — Setelah terpuruk pada tahun 2008, pasar modal dunia mencatat rebound yang spektakuler pada tahun 2009, di tengah krisis ekonomi yang masih mendera. Namun, kepercayaan pasar masih belum pulih benar. Kekhawatiran masih membayangi pada tahun 2010.
Tahun 2009 di Frankfurt, Jerman, indeks DAX berakhir melonjak 23 persen, sementara di Paris, Perancis, indeks CAC 40 menguat 22,332 persen. Adapun indeks FTSE London menguat 22,07 persen, dan indeks Dow Jones Industrial Average meraup 18,82 persen dibandingkan tahun 2008.
Di Asia, kinerja pasar modal bahkan lebih spektakuler, seperti indeks Shanghai China yang melonjak hingga 80 persen, kemudian indeks Hangseng Hongkong menguat 52 persen, dan indeks Nikkei Jepang tumbuh 19,04 persen. Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia melonjak 53,48 persen dari 1.355,40 tahun 2008 menjadi 2.534,36 pada akhir perdagangan tahun 2009.
"Kita terhidar dari bencana," seru Gregori Volokhine, seorang analis dari Meeschaert Investment Group New York.
"Pasar diselamatkan dari depresi yang dalam oleh intervensi masif dari pemerintah dan bank sentral yang menginjeksi likuiditas ke sistem keuangan yang sekarat," kata dia.
Namun, analis Marc Pado New York, Cantor Fitzgerald, memperingatkan bahwa hal ini bukan berarti kepercayaan pasar sudah pulih seratus persen. "Kami tidak bisa mengatakan kepercayaan sudah kembali. Kami melihat investor yang berpindah dari saham ke pasar obligasi," katanya.
Investor tertekan oleh kolapsnya bank raksasa Amerika Serikat, Lehman Brothers, yang mengakibatkan kekhawatiran akan terjadi nasionalisasi lembaga keuangan karena masifnya bantuan negara terhadap lembaga keuangan selama krisis terjadi.
Namun, secara tidak terduga, pasar keuangan naik panjang (rally) sebagai pengakuan terhadap berbagai stimulus keuangan berbagai negara yang kemudian didorong oleh kinerja korporasi yang lumayan.
Menjelang akhir tahun, kecemasan sempat kembali menghantui pasar saat ada berita mengenai kemungkinan bangkrut pada Dubai World, November 2009.
Namun, sampai tahun 2009 berakhir, ternyata mayoritas pasar keuangan berhasil pulih dari keterpurukan tahun 2008, seperti London yang kembali mencapai level saat sebelum Lehman Brothers kolaps.
Di Eropa, bursa saham Lisbon naik 34 persen, Brussels menguat 31 persen, Madrid memperoleh 30 persen, Amsterdam 36,34 persen, Milan 19,47 persen, dan Swiss lebih dari 18 persen.
Hal serupa juga terjadi di pasar keuangan negara-negara Teluk, yang semuanya mendulang kenaikan selama tahun 2009. Sementara itu di Amerika Selatan, pasar saham Sao Paolo Brasil tumbuh 82 persen.
Meski demikian, ternyata apa yang terjadi di pasar modal global tersebut tidak mencerminkan keadaan ekonomi dari negara-negara di dunia. Sebagian besar perekonomian negara masih lemas karena hampir semua negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif, kecuali beberapa negara, seperti India, China, Brasil, dan juga Indonesia.
Sementara itu, pengangguran juga meledak. Bahkan di Amerika Serikat, pengangguran yang mencapai 10 persen merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah negeri Paman Sam itu. Adapun di Spanyol, tingkat pengangguran menyentuh 18 persen.
"Tahun 2010 akan menjadi 'tahun ujian' bagi pasar," sebut para analis.
"Investor ingin melihat sistem finansial dapat kembali berfungsi tanpa bantuan lagi," sebut Volokhine.
Larry Hatheway dan Kenny Liew dari Swiss Bank UBS memperkirakan bahwa tahun 2010, kenaikan pasar akan lebih sedikit dari tahun 2009.
Para analis itu mengemukakan, hal-hal yang membayangi ketidakpastian perekonomian tahun 2010 adalah hubungan dollar AS-euro, kemungkinan melonjaknya harga-harga komoditas bahan baku, kemungkinan naiknya tingkat suku bunga, serta meledaknya defisit anggaran AS dan negara-negara Eropa. Nah, Anda siap menghadapi 2010?

