JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa (5/1/2010) sore, akhirnya dapat menembus angka Rp 9.300 per dollar AS atau naik 35 poin karena pelaku pasar aktif membeli mata uang Indonesia itu.
Nilai rupiah terhadap dollar naik menjadi Rp 9.290-Rp 9.300 per dollar dari sebelumnya Rp 9.325-Rp 9.335.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga, di Jakarta, Selasa ,mengatakan, rupiah bahkan diperkirakan masih bergerak naik pada perdagangan berikutnya. "Namun, kenaikan rupiah yang terlalu cepat kurang menguntungkan karena dikhawatirkan akan mudah terkoreksi," katanya.
Edwin Sinaga yang juga Dirut PT Finan Corpindo Nusa mengatakan, kondisi pasar seperti diperkirakan akan berlanjut karena hot money yang masuk ke pasar makin besar sehingga rupiah diperkirakan akan dapat mendekati angka Rp 9.000 per dollar AS. "Apabila rupiah mencapai angka Rp 9.000 per dollar, maka Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahannya melakukan intervensi pasar," katanya.
Menurut dia, BI masuk pasar agar kenaikan rupiah tidak terus terjadi sehingga hasil ekspor Indonesia tidak merosot lebih jauh. "BI mempunyai kepentingan terhadap ekspor Indonesia," ujarnya.
Apabila BI membiarkan kenaikan rupiah terhadap dollar, lanjut dia, maka para eksportir diperkirakan akan mengeluh dan meminta BI untuk mengawasi pasar agar gejolak rupiah tidak terlalu cepat. "BI akan melakukan intervensi pasar sehingga gejolak rupiah tidak begitu cepat," katanya.
Indonesia, menurut Edwin Sinaga, merupakan pasar potensial bagi investor asing karena mereka menilai bermain di pasar domestik lebih menguntungkan dari pasar Asia lainnya. "Apalagi selisih tingkat suku bunga rupiah terhadap dollar AS masih tinggi," katanya.

