Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 10:16 WIB
Tak Hanya Indonesia yang Gelisah FTA
| Edj | Rabu, 6 Januari 2010 | 08:52 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Perdagangan bebas China-ASEAN atau CAFTA ditanggapi dengan berbagai macam sikap oleh pemerintah atau kalangan pengusaha di negara-negara ASEAN. Ada yang melihat ini sebagai kesempatan, ada yang optimistis, dan ada pula yang pesimistis.

Jika mendengar pernyataan dari China, baik pemerintah maupun pengusaha, adanya FTA berarti kesempatan besar untuk memperluas pasar di ASEAN. China sangat optimistis akan dapat meningkatkan perdagangannya dengan ASEAN.

Memang tampaknya China sudah sangat mempersiapkan diri untuk menghadapi era perdagangan bebas yang tidak terelakkan lagi. Berbagai aturan, insentif, keringanan pajak ekspor, dan kucuran kredit yang terus mengalir bagi dunia industri China memperkuat langkah tersebut. Produk China sangat beragam dan murah, mudah diterima di belahan mana pun di bumi ini.

Perdagangan antara China dan ASEAN naik dari 192,5 miliar dollar AS pada tahun 2008, dan dari 59,6 miliar dollar AS pada tahun 2003. Perdagangan antara China dan ASEAN tahun lalu bernilai 4,3 triliun dollar AS atau setara dengan 13,3 persen volume perdagangan global. ASEAN dan China secara bertahap telah mengurangi tarif-tarif.

Sebaliknya, ada kekhawatiran dari sisi negara-negara ASEAN atas serbuan produk-produk China ini. Segera setelah pajak ekspor ditiadakan, membuat produk lokal sulit meningkatkan pangsa pasarnya di pasar lokal. China saat ini merupakan mitra dagang ASEAN ketiga terbesar setelah Jepang dan Uni Eropa.

Singapura, Malaysia, dan Thailand memiliki defisit yang kecil terhadap China. Sedangkan defisit Vietnam semakin lama semakin besar. Tahun 2008, Vietnam mengekspor barang senilai 4,5 miliar dollar AS ke China dan sebaliknya, mengimpor hingga 15,7 miliar dollar AS.

Menurut mantan Sekjen ASEAN Rodolfo Severino, Malaysia yang mengekspor minyak sawit, karet, dan gas alam ke China akan mendapatkan keuntungan dari adanya penghilangan tarif ini. Tetapi, negara seperti Vietnam yang memfokuskan diri memproduksi barang konsumsi murah tampaknya akan menderita.

Dalam kerangka FTA ini, China juga berharap akan mengimpor lebih banyak lagi produk pertanian seperti buah-buahan tropis dari Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang dapat membahayakan petani buah di Guangxi dan Yunnan.

Siap

Salah satu negara ASEAN yang tampaknya cukup tenang dengan berlakunya FTA ini adalah Singapura. Para ekonom Singapura memperkirakan FTA tidak langsung berdampak pada perekonomian negara pulau itu.

Ekonom dari Nanyang Technological University, Tan Khee Giap, mengatakan, kalau berbicara posisi Singapura, sebelum FTA ini diberlakukan Singapura telah mengekspor lebih banyak dibandingkan mengimpor dari China dalam tiga-empat tahun belakangan ini.

Para pengusaha Malaysia yang tergabung juga mengatakan, FTA ini harus dilihat sebagai peluang meningkatkan pasar di luar negeri. Tahun lalu, total impor China dari Malaysia sekitar 109,82 miliar ringgit atau sekitar 32,11 miliar dollar AS. Angka ini setara dengan 27,5 persen nilai total ekspor Malaysia. Ekspor utama Malaysia ke China adalah sirkuit elektronik terintegrasi (IC), minyak mentah, dan bensin. Pada tahun 2008, Malaysia menduduki peringkat negara pengekspor nomor 15 ke China. Mereka berharap tahun 2009 peringkat itu dapat naik cukup pesat hingga posisi ketujuh.

Sebaliknya, sikap berbeda ditunjukkan oleh para petani dari Thailand. Mereka mengeluhkan murahnya bawang putih dan bawang merah impor dari China menyebabkan 40 persen petani di Thailand gulung tikar. Demikian menurut Witoon Lianchumroon, koordinator FTA Watch. Masih menurut Witoon, sekitar 50.000 keluarga petani di Thailand merasakan dampak langsung dari perdagangan bebas ini.

Seperti halnya Indonesia yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar di ASEAN, Filipina juga tengah mengupayakan penundaan atau revisi beberapa pengurangan tarif atas sektor-sektor perekonomian negeri itu yang akan terdesak hingga tahun 2012. Filipina mengakui bahwa saat ini mereka belum siap bersaing di era perdagangan bebas ini.

Deputi Sekretaris Jenderal untuk Komunitas Ekonomi ASEAN Sundram Pushpanathan mengakui, pebisnis lokal harus berjuang ekstra keras untuk menghadapi perdagangan bebas ini. Menurut Sundram, dalam jangka pendek memang akan ada penyesuaian yang harus dilakukan di beberapa negara. Perusahaan-perusahaan lokal mungkin akan kehilangan pangsa pasarnya jika tidak mampu bersaing meningkatkan mutu produksinya. (Bernama/China Post/Reuters/JOE)

Sumber :
Kompas Cetak