YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi DIY berharap agar impor gula segera terealisasi dan bisa didistribusikan ke pasar. Saat ini, stok gula di DIY diperkirakan hanya bisa mencukupi kebutuhan hingga Februari.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM DIY Astungkoro menuturkan, ketersediaan stok gula sangat penting meskipun harga gula tidak bisa diturunkan. "Meskipun mahal, yang penting barangnya ada. Dengan begitu industri yang sangat tergantung pada gula tidak terganggu," katanya, Kamis (7/1/2010).
Guna menjamin stok gula, Astungkoro berharap agar impor gula segera terealisasi. Jika gula impor bisa terdistribusi ke pasar pada pertengahan Januari, stok gula yang ada akan bertambah sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri dalam jangka waktu yang lebih lama. "Pasokan gula impor mungkin tidak akan bisa menurunkan harga gula di daerah. Tapi setidaknya stok gula di daerah bisa lebih aman, sampai tiba musim giling di pabrik gula," tambahnya.
Menurut dia, Pemerintah Provinsi DIY sudah menyampaikan kondisi stok dan harga gula ke pemerintah pusat. Pemerintah pusat diharapkan menjamin stok gula, dan jika memungkinkan melakukan intervensi guna menurunkan harga gula di pasaran.
Sebelumnya, pedagang yang juga pengurus asosiasi pedagang gula Yogyakarta Taufik Hidayat mengatakan, kebutuhan gula pasir di DIY mencapai 3.000 ton hingga 4.000 ton per bulan. Saat ini, stok gula untuk rumah tangga terus menipis sehingga berpengaruh terhadap harga. "Sekarang saya menjual gula pasir dengan harga Rp 10.200 per kilogram. Setelah dijual di pasar, harganya bisa menembus Rp 11.000 per kilogram," ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Taufik berharap agar rencana impor gula segera terealisasi. Meskipun mungkin tidak akan cukup efektif untuk menurunkan harga gula, impor gula pasir akan berguna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

