JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah selesai mengkaji tentang beberapa opsi pemanfaatan gas di lapangan Donggi Senoro. Saat ini hasil rekomendasi itu telah sampai ke Wakil Presiden Boediono. Keputusan mengenai pemanfaatan gas yang dihasilkan dari lapangan itu akan diterbitkan Januari ini.
Menurut Menteri ESDM Darwin Saleh, Jumat (8/1/2010), di Jakarta, Kementerian ESDM bersama dengan tim lintas departemen telah mengeluarkan rekomendasi tentang pemanfaatan gas dari Donggi Senoro. "Saya hanyalah pihak yang memfasilitasi, perlu ada keputusan dari pihak yang berkompeten, dalam hal ini adalah orang-orang teknis. Saya sudah melaporkan rekomendasi ini ke Wakil Presiden," kata Darwin menegaskan.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Evita Legowo menjelaskan, ada beberapa opsi pemanfaatan gas dari lapangan Donggi Senoro. Pilihannya antara lain, seluruh gas akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik, atau seluruhnya akan diubah menjadi gas alam cair atau diekspor ke manca negara.
"Bisa juga perpaduan gas alam cair dan untuk pabrik pupuk. Penentuan opsi mana yang dipilih terkait pemanfaatan gas dari Donggi Senoro akan dibahas lebih lanjut pada sidang kabinet. Diharapkan, pada Januari telah diperoleh keputusan untuk pengembangan lapangan gas itu," katanya.
Sejauh ini sudah ada 3 perusahaan yang menyatakan berminat membeli gas Donggi senoro yaitu PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Panca Amara Utama (PAU). Ketiga perusahaan itu butuh pasokan gas sekitar 211 mmscfd, jumlah ini hanya sebagian dari kapasitas produksi lapangan Donggi Senoro.
Untuk domestik, konsorsium PT Pertamina dan PT Medco telah menurunkan harga jual gas menjadi antara 5-6 dollar AS per MMBTU dari 6,16 dollar AS per MMBTU. Penurunan harga jual gas Donggi-Senoro untuk konsumen domestik itu dengan persyaratan pembeli harus siap menyerap gas tersebut dan adanya kejelasan dari segi pembiayaan.


