Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 10:28 WIB
Produk China "Bombardir" Indonesia, Apa Kabar Produk Lokal?
Inggried Dwi Wedhaswary | acandra | Sabtu, 9 Januari 2010 | 10:13 WIB
|
Share:

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Untuk bertahan dalam pemasaran, industri rumahan sepatu kulit Cibaduyut milik Pepep di Kampung Blok Lumbung, Cibaduyut Lama, Bandung, Jawa Barat, mengandalkan inovasi dalam desain dan model produksinya. Semenjak gempuran produk impor dari China merebak di pasaran Indonesia, industri rumahan sepatu kulit Cibaduyut menjadi terpuruk di pasaran negeri sendiri.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Penerapan ASEAN-China Free Trade Area (AC-FTA) sudah berlangsung sejak awal 2010. Diprediksi, "bombardir" produk China yang bebas masuk ke Indonesia lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan. Khususnya bagi para pelaku industri lokal. Benarkah? 

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, mengatakan bahwa pasar bebas ini tak sepenuhnya mendatangkan keuntungan. Untuk beberapa sektor industri, kerja sama ini justru mengancam. Ia menekankan, angka ekspor yang lebih rendah dibandingkan impor selama 5 tahun terakhir turut menjadi faktor yang meresahkan. 

"Rendahnya nilai ekspor dibandingkan impor cukup mengkhawatirkan ketika kita masuk ke area pasar bebas," ujar Nini, pada diskusi mingguan Trijaya "ASEAN-China Free Trade Area" di Jakarta, Sabtu (9/1/2010). 

Industri manufaktur, menurut Nina, merupakan sektor industri yang paling terancam. Mengapa? Industri seperti tekstil, garmen, dan alas kaki dikenal sebagai sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Dengan gempuran produk China yang cenderung lebih murah, hal itu dikhawatirkan justru mematikan produk lokal. Biaya produksi di Indonesia tergolong tinggi sehingga harga pasar pun lebih tinggi dibandingkan harga produk China. 

"Industri seperti tekstil, garmen, dan alas kaki selama ini merupakan sektor industri yang ada substitusi impor," ujar Nina. 

Demikian pula industri otomotif. Minimnya produk otomotif lokal diprediksi akan semakin memurukkan industri otomotif, seiring masuknya produk otomotif China.

Industri makan an dan minuman aman

Berbeda dengan sektor industri manufaktur, industri makan an dan minuman justru terbilang aman. Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia Franky Sibarani mengatakan, angka perdagangan makan an dan minuman terbilang masih cukup tinggi.

"Ada beberapa sektor yang justru positif dan optimistis dengan pasar bebas ini. Untuk industri makan an dan minuman, omzetnya lumayan," kata Franky dalam kesempatan yang sama. 

Nina tak membantah hal tersebut. Menurutnya, produk yang sarat dengan muatan lokal, seperti makan an dan minuman, akan bertahan. Akan tetapi, hal ini justru akan kembali membawa "wajah" perekonomian Indonesia kembali ke agro industri. 

"Industri Indonesia yang tadinya ingin dibawa ke negara industri akan kembali ke agro industri. Seharusnya bisa diseimbangkan," kata Nina. 

Sementara itu, Deputi Bidang Pengkajian UKMK Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta, mengakui bahwa daya saing produk lokal memang masih kalah jika dibandingkan dengan produk China. Untuk itu, pemerintah melakukan penataan peraturan untuk meningkatkan daya saing produk lokal. 

"Selama ini, banyak peraturan daerah yang menghambat UMKM, dan yang terpenting, harus menumbuhkan cinta produk lokal," ujar Wayan. 

Di samping itu, pekerjaan rumah pemerintah adalah meningkatkan daya beli konsumen Tanah Air.