BANTUL, KOMPAS.com — Sebanyak 23 desa di Kabupaten Bantul membentuk lembaga keuangan mikro berbadan hukum koperasi. Lembaga tersebut akan menggelontorkan pinjaman lunak kepada petani dan peternak dengan pagu maksimal Rp 1,5 juta. Kehadiran lembaga tersebut diharapkan bisa memberdayakan ekonomi lokal, khususnya sektor agrobisnis.
"Secara kelembagaan, LKM sudah terbentuk. Saat ini tinggal menunggu pengurusan badan hukumnya," kata Slamet Raharjo, pendamping pendirian LKM, di sela-sela acara pembekalan calon pengelola LKM di kantor Bank BRI Cabang Bantul, Rabu (13/1/2010).
Setiap LKM akan mendapatkan modal sebesar Rp 100 juta dari pemerintah pusat melalui program pengembangan usaha agrobisnis pedesaan (PUAP). Dana tersebut disalurkan melalui Bank BRI. Dana disalurkan bukan pada perorangan, melainkan kelompok-kelompok tani dengan bunga 1 persen per bulan. Tujuannya supaya ada kontrol bersama karena tiap anggota bisa saling mengingatkan.
Tahun lalu sudah ada 25 desa yang membentuk LKM. Selama berjalan setahun, tingkat angsurannya tergolong lancar. Targetnya setiap desa di Bantul harus memiliki LKM agar pertumbuhan ekonomi desa bisa lebih maksimal.
Kepala Bank BRI Cabang Bantul I Putu Santika berpesan agar calon-calon debitur LKM nantinya memiliki keseriusan dalam mengembangkan usahanya. "Yang harus diingat adalah keseimbangan. Artinya, jangan semua kekayaan diinvestasikan untuk usaha supaya risikonya tidak terlalu besar," paparnya.
