JAKARTA, KOMPAS.com -
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Kamis (14/1).
Menurut Rahmat, kuotasi atau penawaran investor atas obligasi Indonesia yang jatuh tempo 30 tahun masih mahal karena pasarnya dianggap tidak likuid. Itu terjadi karena investor untuk obligasi berjangka panjang seperti ini cenderung menyimpan surat utangnya dan tidak diperdagangkan kembali di pasar sekunder.
Pemerintah juga sengaja tidak menerbitkan obligasi bertenor 30 tahun bersamaan dengan penerbitan surat utang bertenor 10 tahun karena ingin agar perhatian investor hanya terfokus pada satu seri obligasi. Hasilnya, permintaan atas obligasi pemerintah pada 13 Januari 2010 mencapai 4,5 miliar dollar AS atau terjadi kelebihan permintaan 2,3 kali karena pemerintah hanya melepas 2 miliar dollar AS.
”Selain itu, permintaan investor asing terhadap obligasi domestik (berdenominasi rupiah) masih tinggi sehingga tidak perlu menerbitkan obligasi global dua seri,” ujar Rahmat.
Kementerian Keuangan berencana menghabiskan sisa jatah penerbitan obligasi global atau surat utang yang diterbitkan dalam denominasi valuta asing pada semester I-2010. Hal itu dilakukan karena pemerintah memperkirakan situasi pasar obligasi internasional pada semester II-2010 kurang kondusif untuk menerbitkan surat utang dalam jumlah besar.
Pengamat pasar modal dari Bank Standard Chartered, Eric Alexander Sugandi, menyebutkan bahwa target penerbitan obligasi global pemerintah tahun 2010 sekitar 4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 40 triliun. Saat ini Kementerian Keuangan sudah menerbitkan obligasi berdenominasi dollar AS senilai 2 miliar dollar AS pada 13 Januari 2010.
Dengan demikian, pemerintah masih memiliki jatah sekitar 2 miliar dollar AS untuk dikeluarkan.
