Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 10:46 WIB
Hipmi: Hadapi Produk China, Perkuat Empat Sektor
| made | Sabtu, 16 Januari 2010 | 11:06 WIB
|
Share:

KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA
Menteri Negara Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan didampingi pengelola CEO PT Priamanaya Radiza Djan (tengah), pengelola Pasar Tanah Abang, melihat busana perempuan buatan China yang diperdagangkan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (13/1). Hampir separuh produk yang diperdagangkan di pasar ini berasal dari China. Produk lokal perlu meningkatkan kualitas jika tak ingin tergusur.

TERKAIT:

PALU, KOMPAS.com -  Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, untuk menghadapi gempuran pasar industri produk China yang saat ini telah membanjiri pasar domestik diperlukan penguatan sektor perkebunan dan pertanian.

Untuk bersaing di sektor industri tekstil atau alas kaki Indonesia sudah ketinggalan. Industri tersebut sudah dikuasai China.

Erwin mengakui, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia pasca ditandatanganinya perjanjian perdagangan Indonesia-China saat ini adalah membanjirnya produk industri dari negara itu.

"Ada empat hal yang diperkuat untuk menghadapi produk dari China, yakni pertambangan, perkebunan/pertanian, property dan infrastruktur," kata Erwin Aksa, saat menghadiri Rapat Kerja HIPMI Sulteng dan Seminar Daerah Arah dan Kebijakan Perkebunan Sulawesi Tengah, di Palu, Sabtu (16/1/2010).

Tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Dirjen Perkebunan Ahmad Manggabarani, Pengusaha Sawit Sulteng Murad Husain, Dekan Fakultas Pertanian Untad Prof Dr Ir Basir Chio, M.Si, dan Dekan Fakultas Ekonomi Untad Prof Dr Patta Tope SE.

Erwin mengatakan, empat sektor itu perlu diperhatikan oleh pengusaha dalam negeri karena Indonesia memiliki sumber daya yang cukup besar di sektor tersebut yang tidak dimiliki China.

Sektor perkebunan misalnya, Indonesia memiliki luas lahan yang besar. Hanya saja kata Erwin, saat ini tidak ada lagi kapling lahan dalam jumlah yang luas. Lahan dalam jumlah besar telah dikapling oleh pengusaha-pengusaha besar.

Dia mengatakan, sektor perkebunan butuh keterlibatan pengusaha lokal atau daerah karena pengusaha luar negeri kurang berminat dengan lahan yang kecil.

"Investor luar negeri tidak tertarik dengan lahan yang kecil. Mereka butuh lahan ratusan ribu hektare untuk mengembangkan investasi perkebunan. Di sinilah perlunya keterlibatan pengusaha lokal," kata Erwin.

Menurut Erwin, pemerintah daerah perlu fokus pada pembangunan perkebunan, sebab untuk bersaing di sektor industri tekstil atau alas kaki Indonesia sudah ketinggalan. Industri tersebut sudah dikuasai China. Industri tekstil di negara itu tumbuh 10 kali lipat dari industri dalam negeri. "Perkebunan rakyat perlu dikembangkan dengan memanfaatkan pengusaha-pengusaha di daerah," kata Erwin.

Sumber :
Antara