Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 05:19 WIB
Investasi untuk Ganti ATM Chip Butuh Rp 2 Triliun
Wahyu Satriani Ari Wulan | Abi | Jumat, 22 Januari 2010 | 12:04 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/DHONI SETYAWAN Karyawan Bank BNI 46 tengah memasukkan kotak uang pada mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Jakarta, Selasa (7/4).

JAKARTA, KOMPAS.com-- PT Artajasa Pembayaran Elektronik sebagai perusahaan penyedia layanan transaksi jaringan ATM bersama memperkirakan perbankan nasional butuh alokasi dana sekitar Rp 2 triliun untuk mengganti semua ATM dengan teknologi chip.

 

Demikian disampaikan Vice President Electronic Channel Departement Zul Irfan, saat jumpa pers, di Hotel Kempinski, Jakarta, Jumat ( 21/1/2010 ).

 

"Untuk mengganti Kartu ATM dengan sistem chip, berikut seluruh sistemnya membutuhkan biaya Rp 2 triliun," katanya.

 

Biaya tersebut, kata dia, digunakan untuk menarik semua katu magnetik dan seluruh mesin ATM yang belum dilengkapi alat pembaca kartu chip. Zul mengatakan, hitungan ini didapat dengan asumsi harga per unit ATM sebesar 9-11 ribu dollar AS, dan setiap kartu dihargai 1-2 dollar AS. "Biayanya memang cukup mahal karena memang kami ditekankan oleh BI bahwa dalam penerbitan kartu, sistem pembayaran. interopability itu bisa di satu terminal, jadi jangan hanya kelompok tertentu saja," ujarnya.

 

Paket 9-11 ribu dollar AS per unit ATM itu sudah termasuk jenis ATM standar seperti adanya CCTV. Sementara untuk kartu berteknologi chip sangat tergantung dari kapasitas kartu itu sendiri. Penyiapan penggantian ini diperkirakan akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

 

 

Lebih lanjut ia mengatakan pengantian kartu ATM magnetic menjadi chip bukanlah solusi yang paling tepat untuk mengatasi pembobolan ATM yang marak belakangan ini.

 

"Kartu chip memang aman, tapi untuk pengamanan dengan mengganti kartu chip membutuhkan persiapan infrastruktur yang lama," tandasnya.