Banyumas, Kompas - Potensi ekspor gaplek sebagai bagan baku pakan ternak dan pembuatan alkohol ke sejumlah negara di Asia Tenggara dan Italia cukup tinggi. Namun karena produksi singkong sebagai bahan baku gaplek terbatas, produsen di Banyumas baru bisa memenuhi 20 persen dari total permintaan sekitar 150.000 ton per bulan.
Menurut pengusaha bahan makan an di Kabupaten Banyumas, PT Syasya Food and Agricultural Product, Nurazman Sidik, Jumat (29/1), untuk tahun 2010 ini ada permintaan ekspor singkong (gaplek) senilai Rp 600 miliar. Namun, produksi singkong dari sejumlah kabupaten di Banyumas dan sekitarnya terbatas.
"Oleh karena itu, sekarang kami sedang mulai untuk mengajak kelompok-kelompok tani agar mau memasok singkongnya kepada kami," katanya.
Menurut Ketua Kelompok Tani "Mugi Rahayu", Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Amrulloh Khaeroni (49), potensi singkong cukup besar. Setiap hektar lahan bisa menghasilkan 35 ton singkong dan untuk satu desa dengan lahan sekitar 150 hektar bisa menghasilkan 5.250 ton per tahun.
Namun, selama ini harga jual singkong kurang kompetitif karena pabrik pengolahan singkong baru ada satu di Purbalingga, yaitu pabrik pembuatan tepung tapioka. Itulah sebabnya produksi singkong pun belum maksimal. "Petani masih menganggap singkong ini sebagai hasil pertanian sampingan. Tanamannya pun masih sebagai tanaman sela," katanya.
Lain halnya, lanjut Amrulloh, jika di daerah mulai tumbuh perusahaan-perusahaan yang bisa mengekspor singkong ke luar negeri, kemungkinan harga singkong bisa lebih kompetitif, tidak bertahan di harga Rp 500 per kilogram. "Seperti PT Syasya ini kan menawarkan harga sampai Rp 600 per kilogram tanpa kupas. Ini harga yang cukup lumayan," katanya.
Untuk pasar ekspor, kata Nurazman, tidak hanya singkong yang diminati. Daun singkong kering pun diminati sebagai bahan baku pakan ternak. Harganya di pasar internasional mencapai Rp 3.500 per kilogram. Karena pasokan dari petani masih terbatas, kapasitas ekspor daun singkong kering baru 5.000 ton per tiga bulan.
"Pasokan daun singkong terbatas karena petani masih menggunakan daun singkong untuk pakan ternak kambing mereka," katanya.
Sismono (57), Ketua Kelompok Tani "Warih Utomo", Desa Tlagawera, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, juga berharap agar pemerintah mendorong sektor dagang hasil panen pertanian yang dapat diekspor keluar negeri. Dengan demikian, harga hasil pertanian bisa membaik karena akan lebih kompetitif.
"Kalau hanya ada satu perusahaan yang bisa mengolah hasil pertanian, hal itu membuat daya saing produk pertanian rendah," katanya. (mdn)

