Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 06:02 WIB
Pertanian Butuh Pupuk Organik Lebih Banyak
Orin Basuki | Edj | Minggu, 31 Januari 2010 | 16:36 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pekerja memindahkan pupuk urea ke badan kapal motor angkut yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Minggu (3/1), untuk dikirim ke Kalimantan Tengah. Pemerintah memberikan izin kepada BUMN untuk melakukan ekspor pupuk karena stok pupuk yang terdapat di sejumlah gudang BUMN menumpuk, sementara kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor pertanian membutuhkan pasokan pupuk majemuk dan organik lebih banyak dalam jangka menengah dan panjang karena Indonesia berupaya untuk mengalihkan ketergantungan pada pupuk kimia, yakni urea. Industri pupuk diminta untuk memenuhi kebutuhan petani yang berbeda-beda di setiap daerah.  

Wakil Menteri Pertanian sekaligus Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan, Menko Perekonomian, Bayu Krisnamuthi mengungkapkan hal tersebut di Bogor, Minggu (31/1/2010).

Menurut Bayu, revitalisasi pabrik pupuk yang dicanangkan pemerintah saat ini bisa dijadikan momentum untuk memaksimalkan pasokan pupuk pada seluruh kebutuhan di setiap daerah yang berbeda-beda. Arah penggunaan pupuk ke depan lebih mengarah pada bertambahnya penggunaan pupuk majemuk dan organik.

"Pupuk majemuk diperlukan karena kandungan zat pada pupuk di setiap daerah tidak sama, sehingga pasokan pupuk untuk padi di Karawang-Jawa Barat, misalnya, tidak akan sama dengan padi di Papua. Kandungan NP dan K di Karawang akan berbeda dengan Papua. Kami berharap revitalisasi pabrik pupuk ini dapat memenuhi kebutuhan ini," ujar Bayu.

Sektor pertanian juga membutuhkan lebih banyak pupuk organik, sehingga revitalisasi pabrik pupuk juga sebaiknya diarahkan pada pembangunan pabrik-pabrik baru yang menghasilkan pupuk organik. Saat ini, baru beberapa produsen pupuk yang menanamkan modalnya pada pabrik pupuk organik, yakni Pusri dan Pupuk Kaltim.

"Namun, pembangunan pabrik pupuk organiknya masih sebatas unit-unit produksi baru sehingga produksinya masih sangat terbatas. Padahal trennya adalah pengembangan pupuk organik yang lebih banyak, ketimbang urea," cetus Bayu.

Jika revitalisasi ini tercapai, pemerintah berharap kapasitas produksi pupuk urea mening kat dari 8,05 juta ton menjadi 10,4 juta ton, dengan investasi senilai Rp 45,2 triliun. Program ini juga diharapkan menambah kapasitas produksi pupuk NPK sebesar satu juta ton dengan nilai investasi Rp 1,9 triliun.