JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah bank nasional berminat untuk mendanai pengembangan lapangan gas Donggi-Senoro. Untuk itu, pihak perbankan meminta kepastian mengenai persetujuan dan skema bisnis untuk pengembangan lapangan gas itu, termasuk alokasi gas yang dihasilkan dari lapangan tersebut.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Evita Legowo, usai menghadiri penandatanganan perjanjian pemegang saham perusahaan patungan PT Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara untuk membangun terminal penyimpanan dan regasifikasi gas alam cair atau LNG, Kamis (4/2/2010), di Jakarta.
Sebelumnya, pendanaan dari dalam negeri untuk pengembangan lapangan gas Donggi-Senoro sulit diperoleh. Pendanaan dalam negeri diperlukan. Saat ini komitmen sudah didapat dari Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Mandiri. Tapi mereka meminta kejelasan mengenai kapan dimulainya proyek itu, kata dia.
Sampai sejauh ini keputusan Presiden mengenai persetujuan proyek dan alokasi gas dari lapangan gas Donggi-Senoro masih belum keluar. " Keputusan mengenai Senoro seharusnya Januari. Ya delay sebulan atau dua bulan kan tidak apa-apa, semoga janganlah," ujar Evita menegaskan.
Anggota Komisi VII DPR, Dewi Ariani menambahkan, Pertamina diharapkan membuat rencana bisnis yang jelas terkait proyek Donggi Senoro. "Paling tidak harus ada ketegasan dari Pertamina, kalau pemerintah memberi lampu hijau seperti apa, kalau tidak seperti apa," kata dia.
Kementerian Energi sebelumnya telah menyiapkan empat opsi. Pertama, seluruh gas dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kedua, semua diubah menjadi gas alam cair atau diekspor. Ketiga, perpaduan gas alam cair dan untuk pabrik pupuk. Opsi terakhir, perpaduan gas alam cair dan untuk kebutuhan listrik. Opsi-opsi itu diserahkan untuk dibahas lebih lanjut pada sidang kabinet.
Untuk mengembangkan lapangan yang dioperatori PT Pertamina dan PT Medco, biaya yang dibutuhkan 3,7 miliar dollar AS. Rinciannya, 1,7 miliar dollar AS untuk pengembangan hulu dan 2 miliar dollar AS untuk hilir.
Tiga perusahaan yang berminat membeli gas Donggi-Senoro adalah PT Pupuk Sriwijaya, PT Perusahaan Listrik Negara, PT Panca Amara Utama. Ketiga perusahaan itu butuh pasokan gas 211 juta standar metrik kaki kubik per hari (mmscfd). Jumlah itu hanya sebagian dari kapasitas produksi Donggi-Senoro.
Untuk konsumen domestik, konsorsium PT Pertamina dan PT Medco menurunkan harga jual gas dari 6,16 dollar AS per juta british thermal unit (MMBTU) menjadi 5-6 dollar AS per MMBTU. Syaratnya, pembeli harus siap menyerap gas itu dan ada kejelasan pembiayaan.

