Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 06:46 WIB
Pemerintah Mesti Bersikap Hadapi ACFTA
Yulvianus Harjono | made | Kamis, 4 Februari 2010 | 21:23 WIB
|
Share:

KOMPAS/LASTI KURNIA
Edyono, perajin mebel, menjual produknya di ruang pamer ITC Permata Hijau, Jakarta, Jumat (29/1). Mebel dalam negeri harus bersiap-siap menghadapi serbuan mebel China yang pada Mei mendatang diperkirakan mulai masuk ke Indonesia.

TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com — Pemerintah harus bersikap dengan melakukan berbagai pembenahan untuk menyelamatkan industri manufaktur, khususnya tekstil, dari ancaman serbuan produk murah China menyusul pemberlakuan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (CAFTA).

Jangan sampai produk tekstil nantinya menjadi "sunset industry".

Pembenahan dimaksud bukanlah berupa langkah yang ekstrem, misalnya proteksi atau penarikan diri dari ketentuan CAFTA.

Langkah yang diharapkan, menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Kevin Hartanto , Kamis (4/2/2010), adalah menyiapkan berbagai instrumen yang mampu mendorong daya saing pengusaha lokal, di antaranya memperbaiki infrastruktur, ketersediaan energi yang murah dan mudah dan menekan suku bunga.

Tidak kalah penting, penyediaan iklim perburuhan yang baik melalui revisi UU Ketenagakerjaan. "Ketiadaan upaya pembenahan ini hanya akan berdampak negatif bagi sektor industri manufaktur karena akan turut membebani operasional dan investasi industri. Dengan sendirinya, kehilangan daya saing," katanya.

"Jangan sampai produk tekstil nantinya menjadi sunset industry. Yang rugi nantinya tidak hanya pengusaha, tetapi juga bangsa ini. Berapa banyak pekerja yang akan kehilangan pekerjaan? Jika satu industri ada seribu karyawan, bayangkan berapa banyak pekerja yang akan terkena dampak?" tambahnya.