Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 06:52 WIB
Originalitas dan Filosofi Batik
Yang Tak Bisa Disaingi China
Icha | hertanto | Jumat, 5 Februari 2010 | 13:38 WIB
|
Share:

ICHA RASTIKA
Menteri Perdagangan Mari E Pangestu (kanan), Menkokesra Agung Laksono (tengah) dan Menbudpar Jero Wacik memegang wayang di Jakarta, Jumat (5/2/2010)

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Jika Anda perajin batik, tak perlu takut dengan serbuan batik China setelah perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) diberlakukan. Pasalnya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, batik Indonesia tak akan kalah saing dengan batik China dalam hal variasi coraknya.

Yang diakui UNESCO, keunggulan humanitasnya itu.

Hal tersebut dikatakan Mari dalam acara serah terima sertifikat UNESCO terhadap warisan budaya batik, wayang, dan keris di Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (5/2/2010).

"Tekstil kita bisa bersaing karena variasi corak yang lebih beragam. Dia (China) kan menangnya karena massal," ujarnya.

Hal senada dikatakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman dalam acara yang sama. Menurutnya, orisinalitas dan nilai filosofis yang terkandung dalam batik dan pembuatan batik tak dapat disaingi.

"Yang diakui UNESCO, keunggulan humanitasnya itu. Orisinalitas dan nilai filosofisnya sebagai kekuatan untuk masa depan," kata Arief.

Seperti diberitakan, UNESCO telah mengakui batik, keris, dan wayang sebagai warisan budaya Indonesia. Untuk ke depannya, Indonesia akan berusaha menjadikan angklung dan tari Saman sebagai warisan budaya yang diakui UNESCO berikutnya.