Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 16:32 WIB
Rajin ke Pasar dan Perbaiki Peraturan
Josephus Primus | primus | Senin, 8 Februari 2010 | 20:38 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Yang harus menjadi pegangan adalah berani menghadapi realisasi ACFTA dengan menghasilkan produk bermutu. Tapi, pemerintah juga mesti rajin melakukan pemantauan di pasar sekaligus memperbaiki peraturan yang mengganjal persaingan.

Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat mengemukakan hal itu menjawab seputar kemampuan industri jamu menghadapi persaingan lebih luas terkait kawasan perdagangan bebas tersebut pada Senin (8/2/2010). "Di samping produsen juga harus makin memproduksi barang bermutu, pemerintah juga mesti memberikan dukungan," katanya.

Lebih lanjut, Irwan mengatakan jamu China yang masuk ke Indonesia semestinya memperoleh perlakukan sama dengan jamu Indonesia yang masuk ke Negeri Tirai Bambu tersebut. "Izin edar produk di China lebih mahal," katanya.

Menurut pengalamannya, tiap item produk jamu China yang masuk ke Indonesia cuma dikenai biaya Rp 2 juta. "Padahal, di China, produk jamu kita kena biaya sampai Rp 60 juta per item," ungkapnya.

Dalam catatan yang dikumpulkan Kompas.com, ketahuan adanya kebijakan tak seimbang dari pemerintah China. Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Charle Saerang, bulan lalu, pernah mengatakan pemerintah China melakukan pengetatan impor. Produk jamu Indonesia, sebelum bisa masuk ke China daratan, harus terlebih dahulu masuk ke pasar Hong Kong dan Taiwan.

China juga, terang Charles, beralasan ingin mengetahui soal komposisi, pembuatan, dan standar fabrikasi produk jamu Indonesia. Makanya, sampai kini, China menerapkan banyak sekali peraturan administratif.

Kembali, Irwan Hidayat menambahkan, pemerintah akan lebih baik sering melakukan pemantauan ke pasar-pasar. "Teliti lagi produk-produk jamu China apa saja yang beredar di pasaran," imbuh Irwan.

Pengecekan ke pasar, dalam pertimbangan Irwan merupakan hal penting mengingat masih banyak produk jamu China yang justru tak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) marak di pasaran. "Pemerintah jangan cuma percaya pada daftar produk yang ada di POM. Harus sering mengecek ke pasar. Kalau perlu empat bulan sekali ke pasar," tutur Irwan sembari menambahkan pemantauan juga harus makin meluas tak hanya di kawasan perkotaan tertentu.

Sementara itu, Irwan menambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan memiliki pabrik baru di Semarang. Pabrik itu adalah pabrik yang menghasilkan bahan baku jamu. "Masih di dalam lokasi pabrik Sido Muncul," imbuhnya.

Menurut rencana, pabrik berkapasitas sekitar 50 ton per bulan itu menelan biaya investasi di kisaran Rp 60 miliar. Pada Rabu (10/2/2010) akan diselenggarakan peletakan batu pertama. Rencananya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu bakal hadir. Sementara masa pembangunan memakan waktu enam bulan.

Dalam kesempatan tersebut, Irwan menambahkan kalau tiga produk unggulannya yakni Kuku Bima, Kuku Bima Energi, dan Tolak Angin meraih penghargaan Top Brand 2010 dari Majalah Marketing bekerja sama dengan Frontier Consulting Group. Hingga akhir tahun 2009, total produksi Kuku Bima mencapai 2,5 miliar sachet. Pada periode sama, ada 600 juta sachet Tolak Angin yang diproduksi.