JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi dari Eksekutif, Advisory, Group in Economics, Industry and Trade atau Econit, Hendri Saparini, memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 bakal mencapai 4,4 persen hingga 4,5 persen atau lebih tinggi dibandingkan asumsi pemerintah yang mencapai 4,3 persen.
"Kalau dari perkiraan Econit itu 4,4-4,5 persen," kata Hendri di sela-sela Deklarasi Pembentukan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (9/2/2010). Diketahui, Badan Pusat Statistik atau BPS dijadwalkan akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2009, besok pukul 11.00.
Meski cukup tinggi, Hendri menyebutkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi ini cukup rapuh. Pasalnya, tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2009 ditopang oleh aliran dana asing jangka pendek (hot money) dan utang luar negeri.
"Pemerintah menarik dana-dana hot money dan utang untuk membiayai APBN yang ongkosnya sangat mahal. Ini yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, rupiah dan cadangan devisa kuat. Namun, pertumbuhan ekonomi ini rapuh," ungkapnya.
Di sisi lain, sektor manufaktur yang tumbuh sekitar 1,4 persen dan pertanian sekitar 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya juga turut menopang angka pertumbuhan ekonomi tahun 2009. Namun menurut Hendri, kedua sektor ini justru tidak mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.
"Sektor manufaktur dan pertanian tumbuh, tetapi tidak mampu menyerap tenaga kerja secara optimal karena kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Sektor pertanian yang tumbuh itu bukan pertanian rakyat. Pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi dengan ongkos mahal dan rapuh ekonominya," tandasnya.

Severity: Notice
Message: Undefined variable: output
Filename: libraries/Globalfunc.php
Line Number: 748

