Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 07:38 WIB
BNI Kembangkan Sentra Usaha Kain Songket
M Fajar Marta | made | Kamis, 11 Februari 2010 | 20:05 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Sejumlah kain songket dipamerkan dalam sebuah pameran di Jakarta.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - BNI mengembangkan sentra usaha kecil dengan konsep Kampoeng BNI, yaitu penyaluran pembiayaan dan pembinaan kepada kelompok usaha sejenis secara kluster di suatu daerah. Kali ini, BNI membuka Kampoeng BNI untuk kelompok usaha kain songket di Desa Muara Penimbun, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Di lokasi terdapat sekitar 100 perajin kain songket yang dibina dan mendapat fasilitas pembiayaan berupa kredit kemitraan BNI sebesar Rp 1 miliar.

Kampoeng BNI tersebut diresmikan oleh Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian RI, didampingi oleh Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, dan Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI, di Ogan Ilir , Kamis (11/2/2010).

Menurut Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, pola penyaluran kredit program kemitraan melalui kelompok usaha atau kluster seperti ini memiliki banyak kelebihan dan keunggulan, yaitu lebih efektif dalam penyaluran kredit, lebih mudah dalam pengawasan dan lebih mudah dalam pembinaan. "Strategi seperti ini yang akan terus BNI kembangkan karena dapat langsung bersentuhan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat," jelas Gatot.

Gatot menambahkan program ini juga terkait dengan pengembangan industri kreatif di Tanah Air. Dimana BNI telah menjadi mitra dari Departemen Perdagangan RI dalam mengembangkan industri kreatif di Indonesia. Ada 14 subsektor yang termasuk industri kreatif, termasuk di dalamnya adalah kerajinan dan fashion.

Menurut Gatot, BNI memiliki komitmen yang kuat dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif ini karena berbasis pada inovasi dan kreativitas, serta hasil karya budaya bangsa sendiri. Bentuk kemitraan dan pemberdayaan yang dilakukan BNI kepada para mitra binaan tidak sekadar dalam bentuk fasilitas pembiayaan atau penyaluran pinjaman.

"Dalam konsep Kampoeng BNI, BNI juga membantu dalam penyediaan galeri, penunjuk jalan, dan sarana umum lainnya. Harapan BNI , nantinya selain menjadi sentra kain songket, desa ini juga menjadi desa wisata yang tentu memiliki kontribusi dalam kemajuan perekonomian daerah," kata Gatot.

Pola penyaluran kredit kepada kelompok usaha secara kluster seperti ini juga telah dikembangkan BNI di daerah-daerah lainnya dan sejauh ini menunjukkan keberhasilan, seperti Kampoeng BNI di Subang, Jawa Barat, untuk kelompok usaha peternakan sapi dan pemerahan susu; Kampoeng BNI di Imogiri, Yogyakarta, untuk kelompok usaha budidaya kacang mete dan ulat sutra; Kampoeng BNI di Ciamis, Jawa barat, untuk kelompok usaha pertanian jagung; Kampoeng BNI Lumajang, Jawa Timur, untuk kelompok usaha budidaya pisang; dan Kampoeng BNI di Malang, Jawa Timur, untuk kelompok usaha pemerahan susu sapi. Total fasilitas pembiayaan kredit kemitraan yang telah disalurkan pada enam Kampoeng BNI tersebut, termasuk yang di Ogan Ilir ini mencapai Rp 23,23 miliar.

Program Kampoeng BNI merupakan salah satu program penyaluran kredit kemitraan non-komersial yang dilakukan BNI sebagai bentuk kepedulian sosial dalam memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini, jumlah fasilitas kredit kemitraan yang telah disalurkan BNI mencapai Rp 102,7 miliar yang sumbernya berasal dari penyisihan laba bersih perusahaan.

Karena dananya diambil dari penyisihan laba perusahaan, lanjut Gatot, maka kredit ini memiliki suku bunga yang jauh lebih rendah dari suku bunga komersial, dimana hasil imbalannya tidak masuk ke dalam pembukuan BNI, melainkan dicatat secara khusus untuk kembali digulirkan membiayai usaha yang lain. Inilah yang dikenal dengan konsep revolving fund atau dana bergulir.