Kupang, Kompas
Hal itu dikemukakan dosen Jurusan Kelautan dan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Nusa Cendana, Felix Rebung, Kamis (11/2). Ia mengungkapkan, sebelum pencemaran terungkap, Agustus 2009, nelayan tradisional setempat mampu menangkap ikan sampai 50 kilogram per hari. Namun, pascapencemaran, mereka cuma menangkap 20 kg per hari.
Rebung menegaskan, kondisi ini bukan akibat cuaca buruk. Saat laut teduh pun sulit mendapatkannya dalam jumlah besar, seperti periode yang sama tahun-tahun sebelumnya.
Selain produksi ikan turun, para petani setempat juga terpukul karena budidaya rumput laut milik mereka di sepanjang pantai Laut Timor juga mulai hancur, kerdil, atau batangnya mudah patah. ”Banyak petani sudah tidak lagi membudidaya rumput laut. Kini, mereka menjadi penganggur. Apabila rumput laut sudah tercemar, praktis pengusaha tidak lagi membeli dari masyarakat pesisir selatan NTT,” katanya.
Menurut Rebung, dari perbandingan hasil penelitian Laboratorium MIPA Universitas Indonesia dengan standar mutu baku air laut yang dikeluarkan Environmental Protection Agency (EPA) di Amerika menunjukkan bahwa pencemaran tersebut telah terjadi.
”Saat ini pencemaran masuk kategori sedang, belum masuk kategori gawat atau sangat gawat,” paparnya.

