JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat telekomunikasi, Moch S Hendrowijono, mengatakan, dengan pertumbuhan pelanggan pada tahun 2009 sebesar 21 persen mencapai 31,4 juta orang, operator PT XL Axiata Tbk telah menjadi operator nomor dua terbesar di Indonesia.
”Target Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi untuk menjadikan XL sebagai operator nomor dua telah tercapai,” kata Hendrowijono, Kamis (11/2/2010) di Jakarta. Operator terbesar di Indonesia tetaplah Telkomsel dengan 82 juta pelanggan.
Hendrowijono mengatakan, dalam jumlah pelanggan, XL memang bersaing dengan Indosat. ”XL selektif dalam memilih pelanggan. Juga membersihkan nomor-nomor pelanggan yang tidak aktif. Jadi, jumlah pelanggan XL adalah pelanggan riil,” katanya.
Sementara itu, dua pekan lalu Indosat mengumumkan penurunan jumlah pelanggan sebesar 9 persen dari 36,5 juta akhir 2008 menjadi 33,1 juta pelanggan akhir 2009. Berarti, Indosat masih nomor dua sebagai operator terbesar di Indonesia.
Chief Marketing Officer Indosat Guntur Siboro mengatakan, penurunan jumlah pelanggan itu konsekuensi dari program Indosat tahun 2009 yang fokus kepada pelanggan berkualitas. ”Pelanggan berkualitas adalah yang aktif menggunakan kartunya, bukan pelanggan yang hanya menghabiskan pulsa dari kartu perdana dan setelah itu membuangnya,” kata Guntur.
Menurut dia, sulit memastikan jumlah pelanggan operator telepon seluler di Indonesia yang selama ini diumumkan adalah pelanggan riil atau tidak. ”Pada saat kami melakukan pengecekan, bisa saja ada sejumlah pelanggan yang sedang tidak mengaktifkan nomornya sehingga tidak terdeteksi. Atau, hari ini nomornya aktif, tapi besok sudah dia buang,” kata Guntur.
Dia mengatakan, fokus pada pelanggan berkualitas akan memberikan sejumlah keuntungan bagi operator, antara lain efisiensi biaya dan pembentukan brand image.
Selain pertumbuhan pelanggan, PT XL Axiata Tbk juga melaporkan peningkatan pendapatan usaha 14 persen menjadi Rp 13,9 triliun tahun 2009. ”Tahun 2009 XL mencatat peningkatan pemakaian layanan data signifikan, didorong beralihnya kebutuhan telekomunikasi pelanggan dari kebutuhan dasar seperti menelepon dan SMS saja menjadi chatting dan mengunduh aplikasi jejaring sosial melalui BlackBerry dan telepon genggam yang punya kemampuan GPRS,” kata Hasnul Suhaimi, Kamis di Jakarta. (RYO/REI)

