Gunung Kidul, Kompas - Pemetik rumput laut Pantai Selatan Gunung Kidul mengeluhkan rendahnya harga rumput laut kering. Satu kilogram rumput laut kering di tingkat pengepul dihargai Rp 600 hingga Rp 6.000, tergantung jenis.
Para pemetik rumput laut (tumbuh liar) itu mengaku tak berdaya. Keterdesakan hidup memaksa mereka mengalah.
"Kalau harga kami naikkan, pembeli tak mau ambil. Padahal, kami sudah butuh uang," kata pasangan suami istri Karto Tijaya (75) dan Tuyem (60), pengepul dan pemetik rumput laut di Pantai Ngobaran, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Senin (15/2).
Menurut Karto, pembeli yang memasok rumput laut ke sebuah pabrik pengolahan di Surabaya, Jawa Timur, biasa datang dua pekan sekali. Sekali ambil rata-rata sekitar 100 kilogram rumput laut kering yang dikumpulkan dari 15 pemetik.
Selain harga rendah, sistem "motang" yang diterapkan pembeli memberatkan pengepul yang telah membayar lunas pemetik. Pada sistem motang, pengambil rumput berutang.
"Mereka bayar separuh dulu, sisanya dibayar dua pekan kemudian atau kalau mereka datang lagi," ujarnya.
Di Pantai Ngobaran, dua jenis rumput laut tumbuh liar sepanjang musim. Penduduk setempat menyebutnya "simbar" dan "kinjeng". Harga simbar di tingkat pemetik berkisar Rp 2.500-Rp 3.000 per kg, sedangkan kinjeng Rp 6.000 per kg.
Kinjeng yang berwarna coklat kehitaman lebih mahal karena berkualitas tinggi dan cara memperolehnya lebih sulit dibanding jenis lain.
Terdapat pula rumput laut musiman, yakni jenis karangan ranti yang ada di musim kemarau dan jenis agar yang hanya ada musim pancaroba.
Satu kilogram karangan ranti Rp 600, sedangkan jenis agar Rp 3.000. Usaha keras
Memetik rumput laut di batuan karang di lautan tepi butuh usaha keras. Para pemetik harus menunggu ombak surut.
Menggunakan tongkat berkait (gathul), para pemetik memanjat karang tajam sambil mengusung rumput laut basah yang berat.
Karena ombak surut hanya tiga jam sehari, rata-rata pemetik hanya mampu mengumpulkan 10-30 kg rumput laut basah sehari. Rumput laut itu harus dikeringkan minimal sehari semalam. Setelah proses pengeringan, bobotnya susut sekitar 30-50 persen.
Penduduk Pantai Ngobaran seperti Paimo (61), memilih mengerendet lobster dan bertani. Memetik rumput laut hanya pekerjaan sampingan karena berat. (IRE)

