Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 06:00 WIB
Festival Durian
Dugol, Raja Durian Asal Blitar
| Selasa, 2 Maret 2010 | 11:07 WIB
|
Share:

Oleh Dahlia Irawati

Durian bernama Dugol (Durian Gogolatar Blitar) milik Supriyanto (57), warga asal Desa Kaweron, Talun, Kabupaten Blitar, dinobatkan sebagai raja dari rajanya buah-buahan di Jawa Timur. Dugol terpilih sebagai durian terbaik dalam Festival Durian Se-Jawa Timur 2010, yang diselenggarakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur di Karangploso Malang, Senin (1/3).

Buah durian dari pohon warisan keluarganya itu mengalahkan 39 jenis durian lain. Kontes dan festival durian itu diikuti 40 jenis durian dari 25 kabupaten/kota di Jatim.

"Senang sekali durian milik saya menjadi pemenang. Pohon ini tidak akan saya potong atau jual. Eman (sayang) kalau dijual," ujar Supriyanto.

Pohon durian Dugol miliknya yang menang lomba tersebut telah berusia 23 tahun. Di pekarangannya ada tujuh pohon durian berusia 23 tahun. Sementara pohon sejenis yang berusia tujuh tahun ada tiga pohon.

Menurut cerita Supriyanto, pohon durian Dugol itu merupakan warisan keluarga. Durian itu merupakan hasil okulasi dari durian asal Srengat, Blitar, kemudian ditanam di Gogolatar, Blitar.

Berdasarkan penilaian tujuh anggota dewan juri, durian Dugol dianggap paling memenuhi keseluruhan kriteria sebagai durian berkualitas. "Durian tidak hanya dilihat dari fisiknya, tetapi juga rasa dan sejumlah kriteria lain," tutur Saiful Hosni, ketua panitia festival.

Kriteria sebagai durian berkualitas antara lain memenuhi persentase daging buah yang bisa dimakan (edible portion), warna daging buah cerah dan menarik, tekstur buah punel atau halus, serta rasanya seimbang antara pahit dan manis.

Tentu orang tidak membeli durian hanya untuk mendapatkan daging buah yang tipis sementara pongge (isi buah durian) besar, bukan? Mengenai rasa pahit atau manis durian, itu masalah selera. Ada yang suka durian manis dan ada yang senang pahit.

Tidak terurus

Selain durian Dugol, durian pemenang kedua adalah durian asal Dukuh Watulimo, Trenggalek. Adapun pemenang ketiga adalah durian asal Desa Ngadirejo, Ngantang, Malang.

Ke-40 durian peserta diakui Baswarsiati, juri sekaligus pemulia hortikultura di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim, sebagai durian terbaik di Jatim. Bahkan, mereka bisa dibilang melebihi durian monthong asal Thailand yang selama ini lebih dikenal luas.

"Indonesia termasuk negara terkaya di dunia mengenai varietas buah. Akan tetapi, selama ini jenis buah-buahan kita selalu terpuruk dibandingkan dengan negara lain," ujar Baswarsiati.

Salah satu penyebab keterpurukan produk hortikultura di Indonesia, menurut Baswarsiati, adalah jenis vegetasi unggulan atau pemenang tidak diurus secara serius oleh pemerintah daerah setelah kontes-kontes seperti ini.

Sebagai contoh, dahulu Kabupaten Malang memiliki varietas durian unggul yang telah diputihkan (diakui kualitasnya oleh Menteri Pertanian) dan telah ditiru serta diperbanyak petani durian dari daerah lain. Namun karena si pemilik mengalami kesulitan keuangan, akhirnya pohon durian tersebut dipotong dan dijual.

Seusai kontes ini, BPTP Jatim akan membantu memutihkan durian pemenang di Kementerian Pertanian dan menjadikannya rujukan bibit unggul durian secara nasional.