JAKARTA, KOMPAS.com - Akhirnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bersedia memenuhi permintaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk menjelaskan secara detil transaksi penjualan 90,76 persen saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Rencananya, perusahaan ritel itu akan menjelaskannya ke publik dalam paparan publik, Jumat (5/3/2010) nanti.
Nah, salah satu yang akan dipaparkan MPPA dalam acara itu adalah penggunaan dana hasil penjualan saham LPPF senilai Rp 7,16 triliun. Dari jumlah tersebut, MPPA hanya bakal mengantongi dana tunai Rp 5,3 triliun.
Anak usaha Grup Lippo akan membagi dana tersebut ke dalam tiga pos penggunaan. Pertama, untuk pengembangan bisnis Hipermart dan modal kerja perusahaan. Kedua, mengurangi jumlah utang atau pinjaman. Ketiga, dialokasikan untuk dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham.
Sayang, manajemen MPPA tidak menjelaskan lebih detil komposisi atau nilai yang dialokasikan ke tiga pos tersebut. "Semua akan dijelaskan pada public expose nanti," kata Presiden Direktur MPPA, Benjamin Mailool, kemarin.
Berdasarkan laporan keuangan per September 2009, MPPA memiliki utang obligasi konvensional dan sukuk sebesar Rp 521 miliar. Obligasi ini jatuh tempo tahun 2012 dan 2014. Selain itu, MPPA memiliki obligasi 200 juta dollar AS yang jatuh tempo Agustus 2012.
Sebelumnya, Benjamin memastikan, MPPA menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 1 triliun. "Dana capex ini juga untuk pembaharuan IT," imbuhnya. Seluruh anggaran belanja modal itu berasal dari kas internal.
Joosje Tatipata, Vice President Marketing & Promotion Matahari Food Business, mengatakan, pihaknya menargetkan akan membuka 10 hingga 15 gerai makan an tahun ini. Target ini lebih besar dari tahun sebelumnya, yang hanya sekitar lima hingga 10 gerai. (Abdul Wahid Fauzi/Kontan)

