Jumat, 3 September 2010
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
JK: Efisiensi Biaya, Solusi Hadapi ACFTA
Kamis, 4 Maret 2010 | 20:31 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO
Jusuf Kalla selaku Ketua Umum PMI menjadi nara sumber utama dalam diskusi Kompasiana MODIS (Monthly Discussion) di Kantor PMI DKI Jakarta, Senin (22/2/2010). Diskusi hasil kerja sama Kompasiana Modis dan PMI tersebut mengangkat tema Tantangan dan Peluang PMI.
TERKAIT:

BATAM, KOMPAS.com - Mantan Wapres Jusuf Kalla mengatakan untuk memenangkan persaingan pasca perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA), maka diperlukan efisiensi biaya produksi.

Sudah tidak zamannya lagi proteksi, yang dibutuhkan adalah efisiensi.

Menurut JK di Batam, Kamis (4/3/2010), efisiensi biaya lebih diperlukan untuk memenangkan persaingan dalam ACFTA, ketimbang proteksi produksi dalam negeri. "Sudah tidak zamannya lagi proteksi, yang dibutuhkan adalah efisiensi," katanya.

Selain itu, untuk mendorong dunia usaha agar dapat bersaing dalam era ACFTA, maka pemerintah juga harus membantu dengan memberikan bunga pinjaman murah serta memperbaiki infrastruktur kelistrikan.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Erwin Aksa mengatakan pemerintah perlu membuat kebijakan yang pro pengusaha nasional. "Kita sudah memasuki era China-ASEAN FTA, sehingga perlu kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pengusaha," katanya.

Menurut Erwin, salah satu langkah konkret menghadapi persaingan ACFTA adalah soal pengadaan barang dan jasa dengan penggunaan produk dalam negeri. "Perlu kebijakan berupa Keputusan Menteri dan Keputusan Presiden terkait keberpihakan pada penggunaan produk dalam negeri," ujarnya.

Menurut JK, keputusan tersebut tidak hanya barang ekspor barang mentah tetapi juga barang jadi. "Pemerintah juga harus mempercepat pembangunan infrastruktur," tambahnya.

Editor: made   |   Sumber : Antara Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.