Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 06:01 WIB
Rupiah Masih Tahan Diri
| Edj | Jumat, 5 Maret 2010 | 09:51 WIB
|
Share:

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Nasabah mengamati pergerakan nilai tukar rupiah yang fluktuatif melalui papan elektronik di sebuah tempat penukaran uang di Kwitang, Jakarta.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat (5/11/2010) pagi masih stabil, karena pelaku pasar masih menahan diri untuk masuk pasar.

Mereka khawatir dan menunggu apa ada kelanjutan, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Kamis malam memberikan tanggapan mengenai keputusan sidang Paripurna DPR Rabu malam.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 9.260-Rp 9.270 per dollar AS sama seperti hari sebelumnya.

Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib di Jakarta, Jumat mengatakan, pelaku pasar belum berani masuk pasar, sehingga kegiatan pasar masih lesu, meski transaksi jual beli valas masih tetap berjalan. "Pasar masih menunggu kelanjutan dari keputusan sidang DPR mengenai dana talangan Bank Century bermasalah," katanya.

Rupiah, menurut dia, prospeknya masih positif yang didukung pula oleh membaiknya saham-saham AS setelah klaim pengangguran AS berkurang. "Namun rupiah cenderung agak sulit untuk bergerak naik, karena aktifitas pasar masih lesu," ujarnya.

Meski demikian, lanjut Kostaman Thayib, posisi rupiah yang hampir mendekati angka Rp 9.250 per dollar AS dinilai cukup baik yang jauh berada dibawah target yang ditetapkan pemerintah pada Rp 9.300 sampai Rp 9.500 per dollar AS.
       
"Kami optimis rupiah pada sore nanti akan dapat mencapai angka Rp 9.250 per dollar AS atau mengalami kenaikan karena sentimen positif masih menyelimutinya," ucapnya.

Menurut dia, membaiknya rupiah itu menunjukkan indikator ekonomi makro Indonesia cukup bagus, apalagi laju inflasi Februari 2010 lebih baik ketimbang bulan lalu.
       
Selain  itu peluang pasar di dalam negeri masih bagus ketimbang pasar Asia lainnnya, setelah Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunganya. "Apabila BI menurunkan bunga acuan (BI Rate), kemungkinan besar rupiah akan tertekan, karena pelaku pasar akan melepas rupiah dan membeli dollar AS, tuturnya.

Sumber :
ANT