JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan Bank Indonesia (BI) memperpanjang profil jatuh tempo Sertifikat BI (SBI) dan mengutamakan instrumen SBI bertenor tiga dan enam bulan untuk menyerap ekses likuiditas sedikit banyak bakal memaksa perbankan agar mengelola asetnya dengan lebih produktif.
"BI mungkin memang menginginkan agar aset di perbankan bisa lebih produktif," ungkap Direktur Bisnis Bank UOB Buana Safrullah Hadi Saleh kepada KONTAN, Minggu (7/3/2010).
Maklumlah, tren penumpukan dana di instrumen bebas risiko seperti SBI bertenor satu bulan semakin hari semakin meningkat. Terlebih, hantaman krisis tahun 2008 membikin permintaan kredit anjlok karena sektor riil terpukul. Di saat yang sama, perbankan memilih langkah super-konservatif dalam menyalurkan kredit. Fenomena ini bersamaan pula dengan tren kenaikan dana masyarakat di bank. Walhasil, bank pun kebanjiran likuiditas.
"Dana bank saat ini memang banyak yang menumpuk di SBI 1 bulan, Fasilitas SBI (FaSBI), dan Fine Tune Kontraksi (FTK) yang nilainya mencapai Rp 277 triliun, Februari kemarin," ungkap Direktur Internasional dan Tresuri Bank Mandiri Thomas Arifin. Nilai sebesar itu mencapai 71,95 persen dari total Operasi Pasar Terbuka (OPT).
Dengan kebijakan baru nanti, bank tidak akan lagi bisa bermanja-manja menumpuk dana di SBI karena instrumen yang tersedia akan lebih banyak diarahkan untuk tenor menengah yakni tenor tiga dan enam bulan. Bank akan tergiring memanfaatkan pasar uang antar bank dan fasilitas overnight agar manajemen likuiditas hariannya tetap terjaga. "Kalau tetap terpaku di SBI yang tenornya sekarang lebih menengah, tentu tidak likuid dan repot mengatur hariannya," kata Safrullah.
Kredit Bisa Kembali Gencar
Beberapa bank mengaku akan menggencarkan keran kreditnya agar tidak terbebani likuiditas tak produktif dan tetap bisa meraup penghasilan. "Kami akan arahkan ke penyaluran kredit," tegas Direktur Utama BNI Gatot Murdianto Suwondo.
BNI tak sendirian, Panin Bank juga bersiap akan menggeber penyaluran kreditnya. "Pasca ramai-ramai Century ini, kami akan serius menggarap kredit," katanya.
Hanya saja, bankir berharap sektor riil juga sudah siap menyerap gelontoran kredit dari bank ini. "Percuma kalau bank agresif tapi sektor riilnya tak siap," cetus Gatot. Ia mengingatkan, penyaluran kredit membutuhkan dukungan infrastruktur juga agar bisa berjalan. "Pemerintah mestinya juga concern bagaimana pembenahan ekonomi biaya tinggi, masalah distribusi, dan transportasinya. Jangan hanya bankir saja yang disalahkan," imbuhnya. (Ruisa Khoiriyah/Kontan)

