JAKARTA, KOMPAS.com - Skandal kasus Bank Century yang menyeret nama Menteri Keuangan Sri Mulyani menarik perhatian banyak pihak. Tak hanya dalam negeri, namun berbagai media asing pun ikut penasaran atas kasus penggelontoran dana talangan Rp 6,7 triliun ini.
Tak ayal, di sela-sela acara Foreign Press Gathering, Menkeu mendapat serbuan pertanyaan terkait kasus bank bermasalah ini. Menkeu pun tampak gelagapan menjawab pertanyaan seorang petinggi sebuah media asing. "Bu, apakah merasa menjadi korban," tanya pewarta tersebut, di Kantor Kementrian Keuangan, Jakarta, Selasa ( 9/3/2010 ).
Menjawab hal itu, Menkeu membutuhkan waktu beberapa menit untuk berfikir. "Sebentar, saya tidak merasa saya itu target. I have to think for a second," ujar Menkeu.
Menkeu mengaku, dirinya merasa disalahkan atas kebijakan pengucuran dana talangan ke Bank Century. Padahal, kebijakan itu dibuat demi kepentingan bangsa. Di samping itu, hingga kini tidak ada yang protes atas kebijakan yang dilakukannya untuk menyelamatkan Bank Centuy.
"Saya pikir untuk mereformasi departemen keuangan itu gampang, tetapi ternyata terlihat susah. Di parlemen mereka bicara reformasi,tapi atas nama reformasi tersebut mereka menyalahkan saya," ujarnya diiringi gemuruh tepuk tangan para tamu.
Sri Mulyani optimistis, semua pihak dapat berpikir jernih dan objektif terkait kasus ini. Diharapkan, kasus ini diselesaikan lewat proses hukum yang berlaku tanpa ada campur tangan politik.
"Untuk prosesnya seharusnya hukum tidak dapat disetir politik. Kebijakan untuk mem-bailout itu, jika ada proses yang salah harus dibuktikan dan diproses hukum, itu tidak akan ada masalah tapi akan jadi masalah karena dicampur politik," paparnya.
Menkeu yang malam ini mengenakan rok terusan batik berwarna merah, lantas menyampaikan kata pamungkasnya yang disambut oleh tepuk tangan para hadirin. "Indonesia is always noise, always messy, but policy is always prevail," pungkasnya.


