JAKARTA,KOMPAS.com - Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor asing. Buktinya, mereka terus menambah kepemilikannya pada instrumen investasi seperti Surat Berharga Negara (SBN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan pasar saham.
Per 9 Maret 2010, total dana asing yang ada di SBN mencapai Rp 125,46 triliun. "Dana asing ini setara 20,79 persen dari total SBN," kata Direktur Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, kepada KONTAN, kemarin (10/3/2010).
Bila dihitung, jumlah tersebut naik 16,17 persen dibanding posisi akhir tahun lalu, yang masih Rp 108 triliun. Saat itu, porsi dana asing baru 18,56 persen dari total SBN.
Demikian pula dengan porsi dana asing di SBI, yang hingga 9 Maret lalu mencapai Rp 60,7 triliun. "Dana asing ini sebesar 20 persen dari total SBI," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi Agus Sarwono, kemarin. Dus angka ini naik 37,64 persen dibanding posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 44,1 triliun.
Tapi, pasar saham masih menjadi magnet dan tujuan investasi terfavorit para investor asing. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebutkan, kepemilikan asing per akhir Februari 2010 mencapai Rp 1.214,5 triliun atau sebesar 58,64 persen dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia, yang sebesar Rp 2.071,23 triliun.
Imbal hasil masih oke
Sedangkan sejak awal tahun ini, dana asing sudah mencetak pembelian bersih sebesar Rp 693,85 miliar. Nilai ini memang lebih rendah kalau dibandingkan dengan peningkatan investasi asing di SBN dan SBI. Pasalnya, sejak awal tahun terjadi penjualan oleh asing sebesar Rp 2,01 triliun. Namun, pada 10 hari pertama di bulan Maret ini, asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 2,27 triliun.
Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, penjualan bersih asing di saham Rp 1,87 triliun. Sedangkan sepanjang 2009, pembelian bersih mereka mencapai Rp 13,99 triliun.
Kepala Riset Mandiri Sekurita Ari Pitoyo berpendapat, aliran dana asing ini menunjukkan ekspektasi ekonomi akan membaik. "Hingga saat ini, belum ada sentimen buruk lagi yang kelihatan," katanya.
Pengamat pasar uang Bank BNI Rosady TA Montol mengatakan, sekarang ini investor mencari tempat investasi yang memberikan imbal hasil tinggi, seperti Indonesia, setelah perkiraan data ekonomi Amerika Serikat makin bagus. "Saham masih menjadi tujuan investasi karena pasarnya lebih likuid," imbuhnya.
Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, bilang, dana asing masih akan masuk seperti tahun 2007. "Fund manager asing seperti Templeton dan Fidelity sudah mulai mengincar Indonesia," katanya. Karena, Price to Earning (PE) Indonesia masih lebih rendah dibanding negara lain di Asia. "Masih sekitar 12 kali," ujarnya. (Wahyu Tri Rahmawati, Avanty Nurdiana/Kontan)


