Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 18:11 WIB
Menkeu: APBN Akan Tetap Kuat
Orin Basuki | Edj | Kamis, 11 Maret 2010 | 16:14 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, APBN 2010 akan tetap kuat meskipun harga minyak melonjak sangat tinggi, karena di saat yang sama pemerintah dan DPR RI terkena kewajiban untuk tidak membuat defisit anggaran melampaui 3 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB. Hanya saja, komposisi APBN akan memburuk akibat lonjakan anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak atau BBM yang sulit ditutup oleh penerimaan negara.

"APBN sudah pasti akan selalu ada pada posisi kuat, namun kondisinya bisa kurang sehat jika beban anggaran menjadi condong ke penambahan subsidi. Penambahan subsidi mengindikasikan semakin banyak anggaran belanja lain yang terpangkas," ungkap Sri Mulyani di Jakarta, Kamis (11/3/2010) saat menghadiri pertemuan dengan para editor dari media massa dalam negeri dan para analis dari berbagai lembaga keuangan domestik.

Sri Mulyani mengingatkan, APBN pernah menderita pada tahun 2008 ketika harga minyak mentah di pasar dunia mencapai 140 dollar AS per barrel. Harga minyak yang tinggi menyebabkan subsidi BBM membengkak hingga mendekati Rp 200 triliun.

Pada posisi itu, postur anggaran belanja APBN menjadi tidak sehat, namun dia tetap akan berkelanjutan karena defisit tetap di bawah tiga persen. "Dalam posisi itu, Indonesia jauh lebih ekstrem dalam memberlakukan APBN dibandingkan negara-negara di Eropa yang memiliki defisit anggaran sangat besar," ujarnya.

Pada tahun 2010, pemerintah mengusulkan agar nominal PDB atau total nilai uang yang digunakan dalam aktifitas ekonomi sepanjang tahun sebesar Rp 6.295 triliun. Adapun defisit APBN Perubahan 2010 diusulkan naik dari 1,6 persen PDB Menjadi 2,1 persen PDB.