SURABAYA,KOMPAS.com - Proses produksi galangan kapal di Indonesia cenderung lambat. Masalahnya, di Indonesia belum ada industri hulu pendukung galangan kapal sehingga sekitar 70 persen komponen bahan baku kapal masih harus diimpor.
"Karena 70 persen bahan baku kapal harus impor, maka proses pengadaannya butuh waktu lama. Urusannya sangat panjang sebab harus melewati birokrasi yang panjang, seperti bea cukai, perusahaan forwader, dan unsur-unsur kepelabuhan lainnya," kata Direktur Utama PT Dok dan Perkapalan Surabaya (PT DPS) Muhammad Firmansyah Arifin, Kamis (11/3/2010) di sela peluncuran Kapal Tanker Avila, di PT DPS, Surabaya.
Firmansyah mencontohkan, untuk kebutuhan mesin kapal, beberapa perusahaan galangan kapal Indonesia harus mengimpor dari Jepang dan Finlandia. Bahkan, untuk bahan baku sederhana seperti kabel juga harus mendatangkan dari luar negeri.
Executive Chairman perusahaan operator pelayaran Singapura Prestige Marine Group of Companies Dato' Mohd Zain Abdullah membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kualitas kapal-kapal buatan Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan produk negara lain, tapi pembuatan kapal Indonesia lambat.
"Di Jepang, pembuatan kapal berbobot sekitar 6.000 dead weight tonnage (Dwt) hanya butuh 10 bulan, di Korea 12 bulan, dan di Singapura 15 bulan. Sedangkan di Indonesia pembuatan kapal tanker Avila berbobot 6.300 Dwt butuh waktu 18 bulan," kata Mohd Zain.
Mohd Zain mengusulkan, Indonesia perlu mengembangkan usaha galangan kapal ke luar negeri, misalnya Singapura atau Malaysia. Karena bahan baku kapal di negara-negara itu berlimpah sehingga biaya operasional pembuatan kapal dapat ditekan dan waktu pengerjaan menjadi lebih singkat.
"Banyak pemilik-pemilik kapal berada di di Singapura maupun Malaysia. Karena itu, selain ketersediaan bahan baku melimpah, di tempat itu pemasaran kapal juga lebih mudah," kata dia.

Severity: Notice
Message: Undefined variable: output
Filename: libraries/Globalfunc.php
Line Number: 748

