NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak diperdagangkan bervariasi atau mixed sempit pada Kamis (11/3/2010), karena pasar menimbang prospek pemulihan ekonomi global jelang pertemuan OPEC minggu depan.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman April, naik tipis dua sen menjadi ditutup pada 82,11 dollar A per barrel.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April turun 20 sen menjadi menetap di 80,28 dollar AS per barrel.
Mike Fitzpatrick dari MF Global mengatakan pasar telah terjebak dalam pola bertahan karena pedagang mencoba untuk menemukan prospek yang jelas bagi pemulihan yang tahan lama karena ekonomi global keluar dari resesi. "Kenaikan harga (rally) yang dimulai 5 Februari dari terendah terkemuka 69,50 dollar AS belum menembus tertinggi baru," kata Fitpatrick.
"Data ekonomi masih tidak meyakinkan dan sementara pasar telah merayap lebih tinggi, tampaknya menjadi momentum sporadis," tambahnya.
Harga minyak telah ditutup lebih tinggi Rabu, di tengah berita penurunan stok minyak mentah dan distilasi di Amerika Serikat yang menunjukkan permintaan kuat di konsumen energi terbesar dunia itu, karena muncul dari resesi.
Data ekonomi yang kuat dari China, konsumen energi nomor dua terbesar setelah AS, juga telah mengangkat harga. "Kami mengharapkan China menjadi episentrum pertumbuhan permintaan minyak global pada 2010, lebih dari mengimbangi kelemahan yang berasal dari Eropa dan membantu meletakkan pertumbuhan minyak global di wilayah positif untuk tahun secara keseluruhan," kata Amrita Sen dari Barclays Capital.
Pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) berikutnya
Rabu, secara luas diperkirakan mempertahankan kuota produksi tidak berubah.
Menteri OPEC dari Qatar, Kamis mengatakan, ia mengantisipasi kartel tidak akan mengubah kuota produksi resminya pada pertemuan di markas OPEC di Wina. "Saya kira tidak akan ada perubahan," kata Menteri Energi Qatar Abdullah bin Hamad al-Attiyah kepada AFP.
"Persediaan yang tinggi" meskipun data terbaru AS, katanya.
"Tidak ada kepanikan atau masalah dengan pasokan. Tidak ada alasan untuk memotong atau bahkan untuk meningkatkan," tambah menteri.
OPEC pada Rabu memproyeksikan permintaan minyak dunia akan tumbuh hanya 1,1 persen tahun ini, karena lambatnya pemulihan ekonomi global.


