JAKARTA, KOMPAS.com - Diunggulkan cocok Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh sejumlah kalangan termasuk para pengamat ekonomi tak lantas membuat Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah berbesar hati.
Ketika ditanya soal itu, Halim hanya tersenyum. "Ah, tidak enaklah. Biasa saja," kata Halim ketika ditanya pers di gedung BI Jakarta, Jumat (12/3/2010).
Halim adalah satu dari tiga calon Deputi Gubernur BI yang dicalonkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Siti Fadjrijah. Lainnya Direktur Riset Ekonomi dan Kajian Moneter BI Perry Warjiyo dan Komisaris Bank Danamon Krisna Wijaya.
Kepada wartawan Halim memaparkan pandangannya terkait sistem pengawasan perbankan. "Pengelolaan operasional sehari-harinya agar tidak ada fraud. Kita harus memiliki data base yang lengkap," begitu sebagian pandangan Halim.
Dia juga memaparkan soal modal inti perbankan. "Tidak adil bank besar dengan bank kecil modal inti disamaratakan," katanya.
Tak hanya itu, Halim juga bicara panjang lebar soal API (Arsitektur Perbankan Indonesia), dan model pengawasan bank yang tepat.
Sementara itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia (Kabiro Humas BI) Difi A Johansyah memberikan tanggapan mengenai pergantian Siti Fadjrijah. "Stance kita adalah jabatan itu tidak untuk bidang tertentu karena undang-undang (UU) BI tidak mengatur mengenai pembidangan deputi Gubernur BI. Ini adalah kewenangan interen GBI," kata Difi.
Menurut dia hal ini perlu disampaikan agar tidak salah kaprah. "Kalau dibiarkan implikasinya akan semakin complicated bagi BI ke depan dan menutup calon-calon yang potensial yang kebetulan sekarang berada di luar moneter dan perbankan," kata Difi.


