Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 06:21 WIB
Inflasi China Bisa Jadi Sinyal Kenaikan Bunga Acuan
| Edj | Minggu, 14 Maret 2010 | 15:35 WIB
|
Share:

BEIJING, KOMPAS.com - Inflasi China yang mencapai posisi tertinggi selama 16 bulan terakhir, makin mempersulit langkah Pemerintah untuk menurunkan harga barang-barang di China. Biro Statistik China melaporkan, harga konsumen atau inflasi naik 2,7 persen sepanjang Februari, melebihi perkiraan para ekonom yang meramal kenaikan inflasi sebesar 2,5 persen.

Bahkan, kenaikan inflasi ini lebih tinggi dari bunga deposito tahunan sebesar 2,25 persen. Oleh karena itu, dalam pernyataan Standard Chartered bank Plc, Nomura Holdings Inc dan Royal Bank of Canada disebutkan kemungkinan Gubernur Bank Central China Zhou Xiaochuan mungkin akan mengerek bunga acuan dalam tiga minggu mendatang.

"Inflasi di bulan Februai ini juga akan meningkatkan tekanan sosial dan politik untuk mengerek bunga dalam waktu dekat," kata Ma Jun, Kepala Ekonom China di Deutsche Bank AG di Hongkong. Kenaikan harga sejumlah barang rumah tangga ini jelas akan menurunkan daya beli, karena nilai simpanan di bank akan menurun. (J. Ani Kristanti/Kontan)