BRUSSEL, KOMPAS.com - Para menteri keuangan (menkeu) Uni Eropa dikabarkan bakal menyepakati bantuan keuangan ke Yunani. Keputusan itu akan dikeluarkan hari ini, saat mereka berkumpul di Brussel, untuk membahas perkembangan terakhir krisis keuangan negara asal olimpiade itu.
Cuma, soal nilai dan seperti apa bentuk bantuannya, itu belum diputuskan. "Jumlah dan mekanismenya baru diputuskan, kalau Yunani memang memintanya," ujar sumber Uni Eropa kepada Reuters, Minggu (14/3/2010)
Tapi, lanjut sumber itu, secara prinsip Uni Eropa telah menyetujui soal fasilitas bantuan itu. Saat ini, Komisi Eropa dan unit khusus Eurogroup tengah dalam proses finalisasi soal teknis bantuannya.
Beberapa waktu lalu, Guardian pernah menulis bahwa nilai bantuan yang disiapkan ke Yunani mencapai 25 miliar euro. Yunani sendiri berencana mencari utangan senilai53,2 miliar euro.
Ada sebanyak menteri keuangan 16 negara pengguna euro yang bertemu hari ini, membahas perkembangan Yunani. Pekan lalu, parlemen negara itu sepakat memangkas belanja dan kenaikan pajak hingga 4,8 miliar euro (6,5 miliar dollar AS). Ini usulan penghematan ketiga yang akan diajukan Yunani ke Uni Eropa. Dua usulan sebelumnya ditolak.
Masih kontroversi
Toh, kemarin, Menkeu Prancis Christine Lagarde ragu kalau pertemuan hari ini bakal menyepakati soal bantuan ke Yunani. "Saya yakin, pertemuan belum akan memutuskan apa pun," ucapnya.
Cuma, sumber itu menyebutkan, dari beberapa opsi, Uni Eropa mempertimbangkan untuk memberi bantuan bilateral dan jaminan utang. "Tim hanya tinggal menyelesaikan masalah teknis dan Jerman menjadi faktor penentu di sini," ungkapnya.
Memang, Jerman menjadi negara yang paling menentang pemberian bantuan keuangan ke Yunani. Alasannya, Yunani dianggap melanggar aturan Uni Eropa dengan memberi angka-angka statistik yang tidak valid serta menyembunyikan nilai utang dan defisit yang sebenarnya.
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menilai sebaliknya, Menurut dia, Uni Eropa harus membantu Yunani menyelesaikan utang jatuh temponya yang mencapai 20 miliar dollar AS, April ini. Kalau tidak, mata uang kawasan bakal menghadapi tekanan berat. (Sopia Siregar/Kontan)

