JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah bakal menjalin kerja sama dengan pemerintah Australia yang difokuskan untuk bidang energi dan pangan di kawasan Indonesia timur.
"Australia ingin mengembangkan hubungan tidak hanya government to government, tapi juga people to people context yang lebih ke arah menghilangkan stereotype yang selama ini kurang baik tentang Indonesia," papar Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, ketika dikonfirmasi hasil perjalanan dinasnya ke Australia pekan lalu, Senin (15/3/2010).
Hatta mengatakan, Pemerintah Indonesia akan mengundang Australia untuk menanamkan investasinya di enam provinsi. Keenam provinsi yang dimaksud adalah Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, dan Bali. "Saya segera minta rapat dengan gubernur terkait mengenai subregional, kawasan antara Indo-Aussie khususnya timur, fokus pada pangan dan energi," paparnya.
Nantinya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bakal mendalami rencana investasi ini. Adapun untuk agenda pembahasan investasi tersebut rencananya akan dilakukan pada Juni mendatang. "Pembicaraan itu harus segera di-follow up dan akan dimasukkan dalam agenda salah satu working group joint comission yang akan dilakukan bulan Juni," tandasnya.
Sebelumnya, ada lima perusahaan besar dari Australia yang sudah menyatakan akan mengembangkan bisnisnya dengan nilai 1 miliar dollar AS di Indonesia. Lima perusahaan itu adalah Coca-Cola Amatil, Commonwealth Bank, Thiess, Ramsay Health, dan AIBC.
"Itu yang akan didalami dengan BKPM, tetapi sudah disebutkan pada waktu itu, Coca-Cola dan Thiess dan beberapa perusahaan lainnya atas 1 miliar dollar AS untuk ekspansi," tandasnya.


