SURABAYA, KOMPAS.com — Pasca-diberlakukannya ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA), diharapkan kerja sama antara Indonesia dan China dapat terus ditingkatkan, khususnya di bidang perekonomian. "ACFTA ini sangat penting dan menguntungkan Indonesia serta China. Di waktu yang akan datang, khususnya untuk kerja sama dengan Provinsi Jawa Timur diharapkan bisa terus terjalin dengan baik," ujar Konjen China untuk Surabaya, Wang Huagen, saat perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-China di Hotel Shangri-La Surabaya, Kamis (15/4/2010) malam.
Wang mengatakan, sejak hubungan diplomatik Indonesia-China terjalin 13 April 1950 telah banyak kerja sama yang dilakukan, baik tingkat provinsi maupun kota di kedua negara. Bahkan, kerja sama dengan Jawa Timur kian bersinergi sejak dibukanya Konjen China di Surabaya lima tahun lalu. "Persahabatan ini harus dipertahankan," ujarnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pembangunan jembatan Suramadu adalah simbol kerja sama terbesar dengan China. "Bentang tengah jembatan sepanjang 1,7 km adalah bantuan pinjaman dari Pemerintah China. Ini luar biasa karena tanpa campur tangan China, jembatan terpanjang se-Asia Tenggara ini akan sulit tersambung," ungkapnya.
Saifullah pun menganggap, hubungan diplomatik dengan China ini secara resmi baru terjalin selama 60 tahun. Namun, pada kenyataannya ini telah ada sejak 600 tahun lalu. "Mulai dari datangnya Laksamana Cheng Ho di Pulau Jawa hingga kerja sama dengan Majapahit yang juga di Jawa Timur menjadi sejarah diplomatik," katanya.
Dengan demikian, tambah Saifullah, kini Indonesia dengan China hanya tinggal meningkatkan dalam bentuk kerja sama yang lebih baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

