Rabu, 26 November 2014

/ Bisnis & Keuangan

Flexi-Esia Penggabungan "Smart"

Minggu, 27 Juni 2010 | 16:47 WIB

KOMPAS.com - Mungkin aksi korporasi paling smart di industri telekomunikasi tahun ini adalah rencana konsolidasi, merger atau akuisisi, antara Flexi (PT Telkom) dan Esia (PT Bakrie Telecom). Padahal proses penggabungan juga sudah terjadi antara PT Sinar Mas Telecom (Smart) dan PT Mobile-8 (Fren-Hepi) 2-3 bulan lalu, tetapi tidak menggelegar.

Momen itu tidak hanya menjadi sorotan investor pasar modal dan pemain industri, tetapi juga para politisi. Kepala suku Bakrie, Aburizal Bakrie, adalah Ketua Umum Partai Golkar dan juga Ketua Sekretariat Gabungan Partai-partai Koalisi dengan berbagai persoalan yang membelit kelompok usahanya.

Baru seputar isu saja harga saham Bakrie Telecom (Btel) naik 14,89 persen seminggu pertama Juni menjadi Rp 162 pada 7 Juni 2010. Saham anak usaha Bakrie Brothers itu terus menjulang, sama menjulangnya dengan jumlah utang yang pada akhir Desember 2009 mencapai Rp 4,88 triliun, naik 98,9 persen dari Rp 2,45 triliun pada akhir Desember 2008, menurut laporan keuangan tahun 2009 Bakrie Telecom. Padahal pendapatan usaha Btel di tahun itu hanya Rp 2,74 triliun dengan laba bersih Rp 98,44 miliar.

Isu konsolidasi mengguncang pasar dan membuat operator code division multiple access (CDMA) lain merasa terancam. Penggabungan keduanya menimbulkan kekuatan yang sangat besar, jumlah pelanggan menjadi lebih dari 26 juta, 90 persen pangsa pasar CDMA yang 30 juta. Di seluler, gabungan ini menjadi terbesar keempat setelah PT Telkomsel, PT Indosat, dan PT XL Axiata, yang memantapkan eksistensi CDMA dan mengurangi saling bunuh lewat perang tarif.

Di kala industri telekomunikasi sedang acakadul, penggabungan itu dinilai sangat positif. Selain terjadi penghematan besar dalam biaya modal dan biaya operasi, juga dalam biaya pemasaran, terutama biaya tawar keduanya akan menurun tajam. Selama ini, di lapangan, "pertempuran" dari yang halus sampai yang kasar terjadi antarkedua operator itu walaupun kedua jajaran direksi punya hubungan mesra.

PT Telkom, pemilik prasarana terbaik dari semua operator telekomunikasi, selalu melihat Esia sebagai ancaman serius. Jika dibiarkan, jumlah pelanggan Telkom Flexi yang 15,1 juta akan segera disusul oleh Esia yang pelanggannya baru 11 juta. Tawuran terjadi, konon, akibat pemahaman fair play di jajaran Telkom, fair terhadap Esia di tingkat petinggi, namun play di lapangan. "Dengan penggabungan terjadi penghematan besar-besaran di biaya berantem," ujar salah satu petinggi telekomunikasi.

Untungkan pelanggan Penghematan besar-besaran secara langsung menguntungkan pelanggan karena mutu layanan keduanya akan meningkat, selain biaya modal yang lebih difokuskan ke pengembangan jaringan. Dengan berbagai benefit tadi, pelanggan FlexiEsia diyakini bisa mencapai 40 juta pada tahun 2011.

Kata Dirut PT Telkom Rinaldi Firmansyah kepada media, perlu waktu empat bulan untuk menuntaskan penggabungan yang menjadi bagian transformasi bisnis BUMN itu menjadi perusahaan unggul di layanan telekomunikasi, informasi, media, dan edutainment. Kata anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Nonot Harsono, perlu waktu setahun untuk mendapat lisensi dan izin operator baru jika konsolidasi itu menggunakan nama baru

Telkom akan spin off (memisahkan) Flexi menjadi PT sendiri untuk merger, tetapi kalau opsinya akuisisi Bakrie, Telkom yang akan mengambil kendali. Dengan merger, baik PT Telkom maupun Btel tidak mengeluarkan dana.

Konsolidasi Konsolidasi akan dimulai oleh Bakrie yang membeli prasarana Flexi berupa base transceiver station (BTS) dan karyawan divisi Flexi yang jumlahnya di atas seribuan orang, lalu melakukan right issue sebesar 40 persen sahamnya yang akan dibeli oleh Telkom. Dengan hitungan harga saham per lembar Rp 162, yang harus dikeluarkan Telkom sekitar Rp 1,84 triliun.

Wacana penggabungan dua raksasa di CDMA Indonesia ini cukup menggetarkan operator CDMA lainnya, meski SmartFren dikatakan tetap akan dikembangkan dan menjadi nomor dua di CDMA. StarOne (Indosat—pelanggan 600.000-an) atau Ceria (Sampurna Telecom—di bawah 200.000) akan makin menggurem dan konon Ceria (frekuensi 450 MHz CDMA) akan diambil alih Btel.

Isu monopoli kemungkinan akan ditiupkan pesaing karena industri kemudian dikendalikan oleh FlexiEsia yang bisa mematikan operator lainnya. Jika dipandang hanya dari sudut CDMA, isu itu kemungkinan benar, tetapi kalau FlexiEsia tidak menekan industri dengan perang tarif, tak akan ada masalah dengan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU). Nonot Harsono kepada media mengatakan, penggabungan FlexiEsia tidak melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli jika dilihat posisinya sebagai operator seluler.

Bagaimanapun, akuisisi atau merger di industri telekomunikasi akan merupakan yang terbaik saat ini.

Dengan 11 operator telekomunikasi, beban biaya sosial yang ditanggung masyarakat—antara lain pemilikan kartu SIM lebih dari satu operator— sangat besar. Itu karena semua operator larut dalam perang tarif yang biaya marketingnya tinggi untuk bisa hidup.

Untuk Indonesia dengan 235 juta penduduk, mungkin hanya perlu 4 atau 6 operator. China yang penduduknya 1,3 miliar hanya punya 2 operator seluler.(Moch S Hendrowijono Wartawan Senior, Mukim di Cisarua, Bandung)


Editor : Tri Wahono
Sumber: